News

Payung Geulis Kreasi Perkuat Identitas Kota Payung, Selaras dengan Program Prioritas Tasik Pelak

42
×

Payung Geulis Kreasi Perkuat Identitas Kota Payung, Selaras dengan Program Prioritas Tasik Pelak

Sebarkan artikel ini
Workshop pengembangan Payung Geulis Kreasi yang berlangsung di Taman Kota Tasikmalaya menghadirkan beragam inovasi kerajinan sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali popularitas Payung Geulis sekaligus memperkuat daya saing produk unggulan daerah, Sabtu (31/10/2026).

KOTA TASIK (CM) – Pemerintah Kota Tasikmalaya mendorong pengembangan kerajinan Payung Geulis melalui inovasi produk, digitalisasi pemasaran, dan regenerasi perajin. Langkah ini menjadi bagian dari implementasi program prioritas Tasik Pelak untuk memperkuat ekonomi kreatif dan meningkatkan daya saing produk unggulan daerah.

Upaya tersebut diwujudkan melalui workshop pengembangan Payung Geulis Kreasi yang digelar Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Tasikmalaya di Taman Kota, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Kegiatan yang menjadi rangkaian Tasik Oktober Festival (TOF) dalam rangka Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya itu mendapat dukungan Bank Indonesia. Panitia menghadirkan ratusan Payung Geulis dengan beragam kreasi, termasuk produk berbahan rajutan yang dikembangkan menjadi dekorasi bernilai seni.

Kepala Disperindag Kota Tasikmalaya Sofian Zaenal Mutaqien mengatakan, pengembangan Payung Geulis menjadi salah satu prioritas dalam Rencana Induk Pengembangan Kerajinan (RIPK). Selama dua tahun terakhir, pemerintah daerah berupaya menghidupkan kembali popularitas kerajinan tersebut melalui inovasi produk dan perluasan pasar.

Menurut Sofian, Payung Geulis tidak cukup dipertahankan sebagai kerajinan tradisional. Produk ini harus berkembang menjadi identitas budaya sekaligus komoditas industri yang memiliki nilai ekonomi.

“Popularitas Payung Geulis mulai sedikit luntur, salah satunya karena kreasi produknya berkurang. Karena itu, kami mendorong pengembangan berbagai bentuk turunan, seperti payung bordir, payung hias, dan payung dekorasi,” ujar Sofian.

Ia menjelaskan, pengembangan tersebut sejalan dengan semangat Tasik Pelak yang mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif melalui inovasi dan penguatan pelaku usaha lokal. Pemerintah ingin Payung Geulis tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi perajin dan UMKM.

Pengembangan dilakukan melalui tiga pendekatan. Pertama, memperkaya desain dan fungsi produk agar Payung Geulis tidak hanya digunakan sebagai payung, tetapi juga menjadi elemen dekorasi dan kebutuhan industri kreatif.

Kedua, mendorong digitalisasi, baik dalam proses desain maupun pemasaran. Sofian menilai pola penjualan konvensional tidak lagi cukup untuk menjangkau konsumen yang semakin luas.

Ketiga, memperkuat kolaborasi dengan seniman dan budayawan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Masukan dari berbagai kalangan diharapkan melahirkan inovasi sekaligus memperluas pasar kerajinan khas Tasikmalaya tersebut.

Pemerintah juga menyiapkan dukungan infrastruktur. Salah satunya melalui pembangunan Pusat Pengembangan Industri Kerajinan (PPIK) di Jalan Mashudi, Kecamatan Cibeureum, yang dilengkapi berbagai fasilitas penunjang produksi.

Selain itu, Pemkot tengah merintis Kampung Payung Geulis di Kampung Salapan, Kecamatan Kawalu. Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi pusat pengembangan kerajinan dan kreativitas Payung Geulis.

Sofian mengatakan, pemerintah juga berupaya memperluas penggunaan produk kerajinan lokal di ruang publik. Payung Geulis, mendong, dan kerajinan bambu diharapkan hadir sebagai bagian dari dekorasi perkantoran, hotel, serta fasilitas umum.

“Kami sudah membuat surat edaran berupa imbauan penggunaan produk unggulan daerah, tidak hanya Payung Geulis, tetapi juga mendong, kerajinan bambu, dan produk lainnya di hotel, perkantoran, serta tempat lain,” katanya.

Namun, persoalan regenerasi masih menjadi pekerjaan rumah. Minat generasi muda untuk menekuni kerajinan Payung Geulis dinilai belum tumbuh secara signifikan. Kondisi ini diperparah dengan semakin berkurangnya perajin, terutama pembuat kerangka payung berbahan bambu.

Sofian mengatakan, pelatihan menjadi salah satu cara untuk menarik minat anak muda. Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan lembaga dan pelaku usaha yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan industri kerajinan lokal.

Founder Festival Payung Indonesia, Heru Prasetya, menilai Tasikmalaya memiliki posisi historis sebagai salah satu pelopor kerajinan Payung Geulis. Karena itu, pelestariannya membutuhkan gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, perajin, pelaku usaha, dan masyarakat.

Menurut Heru, membangun ekosistem kerajinan jauh lebih penting daripada sekadar mempertahankan tradisi produksi. Payung Geulis harus hadir dalam kehidupan masyarakat agar tumbuh menjadi simbol kebanggaan daerah.

“Payung Geulis harus ada di kantor-kantor pemerintah, mulai dari kantor kelurahan, dinas, hingga kantor bupati dan wali kota. Termasuk terminal, stasiun, dan ruang publik lainnya,” kata Heru.

Ia menilai, kehadiran produk kerajinan di berbagai ruang publik akan memperkuat identitas daerah sekaligus menciptakan pasar baru bagi para perajin.

Sementara itu, perajin Payung Geulis, Eri Aksa Heryadi, mengapresiasi langkah pemerintah dalam mendorong pengembangan kerajinan tersebut. Namun, ia berharap upaya pelestarian tidak berhenti pada kegiatan promosi dan pelatihan.

Eri menilai edukasi kepada pelajar dan mahasiswa perlu diperluas. Salah satunya melalui workshop melukis payung agar generasi muda mengenal proses kreatif sekaligus tertarik mengembangkan kerajinan tradisional.

“Payung Geulis Tasikmalaya sudah saatnya dicintai generasi milenial dan anak muda agar kerajinan tradisi ini tidak mati terkikis zaman,” ujarnya.

Ia mengingatkan, semakin sedikitnya pembuat kerangka payung dari bambu menjadi ancaman bagi keberlangsungan produksi. Karena itu, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih kepada para perajin yang masih bertahan.

Sofian mengatakan, Pemkot bersama Dekranasda menargetkan Payung Geulis kembali menjadi identitas kuat Kota Tasikmalaya pada 2027. Sebutan Tasikmalaya sebagai Kota Payung, menurut dia, merupakan warisan yang perlu dipertahankan melalui penguatan industri dan regenerasi perajin.

“Dari dulu titik konsen pengrajin Payung Geulis ada di Kota Tasikmalaya. Banyak yang menyebut Tasikmalaya sebagai Kota Payung. Itu yang harus kita pertahankan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *