KOTA TASIK (CM) – Peluang membuka usaha baru mulai dilirik Ai Wati. Ibu rumah tangga asal Ciamis yang kini tinggal di Kota Tasikmalaya itu baru pertama kali mengikuti pelatihan kewirausahaan, yakni membuat dimsum.
Selama tiga hari mengikuti pelatihan di LKP Nurfaridah, Lengkong Barat, Kelurahan Lengkongsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Ai mengaku mendapatkan pengalaman baru. Ia pun ingin terus mengembangkan kemampuan memasaknya.
“Sangat senang bisa ikutan pelatihan ini. Supaya belajar berwirausaha nantinya. Mau belajar memasak lebih banyak lagi,” ujar Ai saat ditemui, Senin 7 September 2026.
Ai merupakan satu dari 13 peserta pelatihan tata boga yang digelar LKP Nurfaridah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pelatihan vokasi yang menyasar sekitar 110-120 warga dari daerah pemilihan (Dapil) 1 Kota Tasikmalaya, meliputi Kecamatan Tawang, Cihideung, dan Bungursari.
Program tersebut digagas Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Kepler Sianturi, bersama Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya.
Kepler mengatakan program vokasi tersebut merupakan salah satu bentuk respons terhadap persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Di antaranya kondisi fiskal daerah, masih tingginya angka anak tidak sekolah, pengangguran, hingga kemiskinan.
“Sebagai anggota DPRD, kami coba merespons permasalahan ekonomi ini secara konkret melalui penganggaran resmi daerah,” kata Kepler.
Tidak hanya tata boga, program tersebut mencakup tujuh bidang keterampilan. Pelatihan bagi ibu rumah tangga antara lain tata boga, pembuatan hantaran, tata rias kecantikan, serta kecantikan rambut.
Sementara bagi kalangan pemuda, pelatihan diarahkan pada keterampilan aplikasi komputer dan desain grafis, digital marketing, serta pengolahan herbal berbahan kunyit dan jahe.
Menurut Kepler, keterampilan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan. Peserta didorong agar mampu memanfaatkannya untuk membangun usaha mandiri.
“Tujuannya jelas: melahirkan UMKM baru, mengembangkan perekonomian masyarakat, dan mengurangi pengangguran dengan membekali keterampilan untuk berwirausaha,” ujarnya.

Dimsum Dipilih karena Dinilai Mudah Dipasarkan
Ketua Yayasan LKP Nurfaridah, Yani Nuryani, mengatakan dimsum dipilih sebagai materi pelatihan karena makanan tersebut tengah populer dan memiliki peluang pasar di Tasikmalaya.
Pelatihan dimsum juga menjadi variasi dari program sebelumnya yang lebih banyak memberikan materi pembuatan kue kering dan kue basah.
Selama tiga hari, peserta mendapatkan materi dengan komposisi sekitar 60 persen praktik dan 40 persen teori. Peserta tidak hanya diajarkan proses membuat dimsum, tetapi juga pengenalan bahan, pengelolaan bahan, teori dasar, hingga kedisiplinan dalam proses produksi.
“Pesertanya beragam, ada yang sudah berumah tangga maupun masih single. Kami pakai instruktur internal yang sudah teruji seperti Bu Sri dan Bu Neneng,” kata Yani.
Kabid PAUD PNF Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Yogi, mengatakan pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap pengembangan pendidikan nonformal melalui program tersebut.
Menurutnya, pembiayaan kegiatan bersumber dari APBD melalui skema hibah yang diserahkan kepada LKP untuk pelaksanaan pelatihan.
Selain mendapatkan materi, peserta juga memperoleh sejumlah perlengkapan pendukung, seperti panci, celemek, dan topi masak. Peralatan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan peserta untuk menunjang usaha setelah pelatihan selesai.
“Peserta juga dapat alat pendukung seperti panci, celemek, dan topi masak. Rencananya alat itu jadi milik peserta untuk menunjang usaha mereka,” ujar Yogi.
Meski demikian, Yogi mengakui waktu pelatihan selama tiga hari masih relatif singkat. Menurutnya, pelatihan untuk mencapai kemampuan tingkat ahli idealnya membutuhkan waktu sekitar satu bulan.
Dengan waktu yang lebih panjang, peserta dapat mempelajari materi secara lebih mendalam, mulai dari pemilihan bahan, teknik produksi hingga strategi pemasaran.
Ingin Langsung Praktik di Rumah
Bagi Ai, pelatihan tersebut bukan sekadar kegiatan mengisi waktu. Ia berharap keterampilan yang didapat bisa dipraktikkan di rumah dan menjadi bekal untuk dirinya maupun keluarga.
“Harapannya bermanfaat untuk saya sendiri dan keluarga. Nanti kalau sudah bisa, mau mempraktikkannya di rumah,” kata Ai.
LKP Nurfaridah yang berdiri sejak 2023 pun berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar dengan materi keterampilan yang lebih beragam.
Yani menyebut pembuatan kue kering, cake, hingga tart menjadi beberapa materi yang diharapkan dapat diberikan pada pelatihan berikutnya.
“Yang belum punya usaha diharapkan bisa mulai. Yang sudah punya, usahanya bisa lebih berkembang,” pungkas Yani.
Melalui pelibatan lembaga kursus lokal, program tersebut diharapkan tidak hanya memberikan keterampilan kepada masyarakat, tetapi juga ikut mendorong keberadaan lembaga pendidikan nonformal agar semakin aktif dalam membuka akses pelatihan dan peluang ekonomi bagi warga Tasikmalaya.





