KOTA TASIK (CM) – Dua ratus orang berebut 20 kursi Pelatihan Berbasis Kompetensi Bidang Kejuruan Barista yang digelar Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya. Ketatnya seleksi menunjukkan tingginya minat warga untuk memperoleh keterampilan sekaligus sertifikasi yang diakui industri.
Dari 200 pendaftar melalui tautan resmi Disnaker, hanya 40 orang yang lolos seleksi administrasi. Setelah menjalani wawancara dan uji kompetensi dasar, jumlah peserta kembali dipangkas menjadi 20 orang.
Program yang dibiayai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) itu memiliki nilai tambah. Untuk pertama kalinya, pelatihan barista di Kota Tasikmalaya memfasilitasi peserta memperoleh Sertifikat Kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya Deni Diyana mengatakan kuota dibatasi agar proses pelatihan berlangsung optimal.
“Peserta yang lulus dengan nilai kompeten akan langsung ditempatkan. Mereka berhak mendapat dua sertifikat, yaitu sertifikat pelatihan dari Dinas dan sertifikat kompetensi dari BNSP,” kata Deni.
Pelatihan dimulai Selasa, 8 September 2026. Materi teori dan praktik berlangsung selama enam hari, 9-14 September, di Siloka Coffee.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Uji Kompetensi BNSP pada Selasa, 15 September 2026 di Siloka Coffee Lab. Penguji didatangkan langsung dari BNSP Jakarta. Penilaian dilakukan secara independen dan hasilnya tidak dapat diintervensi oleh penyelenggara.
Sertifikat kompetensi BNSP menjadi salah satu bekal peserta memasuki industri makanan dan minuman. Lulusan dapat menggunakannya saat melamar pekerjaan sebagai barista di kafe, hotel, maupun restoran berskala besar.
Namun, sertifikat tersebut hanya berlaku untuk kompetensi barista. Sertifikasi itu tidak dapat digunakan untuk profesi lain seperti koki.
Salah seorang peserta, Sandi, warga Kalangsari 2, Kecamatan Cipedes, mengaku lega setelah lolos dari seleksi. Ia menilai sertifikat BNSP dapat memperbesar peluang memperoleh pekerjaan.
“Saya sudah lolos seleksi, tentunya saya sangat senang. Apalagi dapat sertifikat BNSP. Sertifikat BNSP bisa digunakan sebagai modal untuk mendapat pekerjaan,” ujar Sandi.
Sandi mengetahui informasi pelatihan dari seorang temannya yang bekerja di hotel. Ketertarikannya pada dunia kopi membuat dia langsung mendaftar ketika pendaftaran dibuka pada Ahad.
Tiga hari kemudian, namanya tercantum sebagai peserta yang lolos seleksi.
“Pendaftaran hari Minggu, Pak. Tiga hari langsung keterima, alhamdulillah,” katanya.
Kini Sandi memilih fokus mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Ia ingin menjadikan keterampilan yang diperoleh sebagai modal untuk masuk ke industri kopi.
“Saya akan fokus mengikuti pelatihan agar menjadi barista. Ilmu yang diberikan di sini akan saya perdalam dulu,” ujar dia.





