News

Dari Batu Mahpar, Para Budayawan Hidupkan Kembali Makna Kemerdekaan

453
×

Dari Batu Mahpar, Para Budayawan Hidupkan Kembali Makna Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini

KAB. TASIK (CM) – Peringatan kemerdekaan di Kabupaten Tasikmalaya tahun ini tidak berhenti pada 17 Agustus. Sehari setelahnya, ratusan budayawan dan keturunan kerajaan di Jawa Barat kembali menggelar upacara dengan cara yang berbeda, yakni menghidupkan kembali ingatan tentang awal berdirinya Republik Indonesia melalui tradisi Sunda.

Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI itu berlangsung di Batu Mahpar, kaki Gunung Galunggung, Selasa, 18 Agustus 2026.

Peserta mengenakan pakaian adat Sunda, mulai dari iket kepala dan beskap hingga mahkota kerajaan.

Merah Putih tetap dikibarkan dengan khidmat diiringi Indonesia Raya. Namun suasana upacara jauh dari gambaran seremoni kenegaraan pada umumnya.

Para peserta tidak mengenakan jas atau peci hitam. Di antara mereka berdiri para kasepuhan dan perwakilan keturunan kerajaan dari Sumedang, Cirebon, serta Tasikmalaya.

Pemilihan 18 Agustus menjadi bagian penting dari pesan yang hendak disampaikan. Budayawan Sunda Anton Charliyan mengatakan tanggal tersebut dipilih untuk mengingat momentum setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

“17 itu Proklamasi dibacakan. Kita kenang lagi masa perjuangan dulu para pahlawan,” kata Anton.

Menurut dia, upacara tersebut juga pernah digelar pada 18 Agustus di Manonjaya. Karena itu, peringatan di Batu Mahpar dimaksudkan untuk menghubungkan kembali masyarakat dengan sejarah awal republik.

Perbedaan paling mencolok tampak pada pasukan pengibar bendera. Para anggota Paskibra tampil dengan pakaian adat lengkap, termasuk celana pendek yang menyerupai busana prajurit kerajaan pada masa lalu.

Sepatu pantofel tidak terlihat. Mereka melangkah dengan busana tradisional, tetapi tetap menjaga disiplin barisan. Pengibaran Merah Putih berlangsung tanpa mengurangi kekhidmatan upacara.

“Ini budayawan banyak hadir termasuk para kasepuhan di Jawa Barat,” ujar Anton.

Di barisan depan, para raja dan perwakilan kerajaan mengikuti upacara. Batu Mahpar hari itu menjadi pertemuan antara simbol kerajaan, tradisi Sunda, dan nasionalisme Indonesia.

Polda Jawa Barat turut mendukung kegiatan tersebut. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan kebudayaan dapat menjadi salah satu fondasi dalam menjaga nasionalisme.

Menurut Hendra, pelibatan tradisi lokal juga sejalan dengan program Jawara Jaga Rawat Jawa Barat. Ia menilai budaya bukan sekadar pelengkap seremoni, melainkan cara untuk menjaga identitas masyarakat.

Hendra juga mengapresiasi konsep Paskibra yang mengenakan pakaian adat. Menurut dia, unsur tradisi tidak mengurangi kekhidmatan upacara kemerdekaan.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pemberian Galunggung Award kepada sejumlah tokoh dan budayawan yang dinilai berkontribusi dalam menjaga budaya Sunda.

Hendra Rochmawan menjadi salah satu penerima penghargaan sebagai penggiat budaya dan sosial kemasyarakatan.

Setelah penghargaan, acara dilanjutkan dengan doa bersama dan pertunjukan seni tradisional.

Dari Batu Mahpar, pesan yang dibawa sederhana, yaitu kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan mengulang seremoni, tetapi juga dengan merawat ingatan sejarah dan kebudayaan yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *