KOTA TASIK (CM) – Pondok Pesantren Al-Mukhtariyah, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, memanfaatkan media film sebagai sarana memperkuat literasi digital sekaligus pendidikan karakter bagi para santri.
Kegiatan tersebut digelar dalam rangkaian Imtihan, Wisuda Tahfiz, dan Haul Muassis-Muharrik, Minggu (28/6/2026) malam.
Ratusan santri memenuhi aula pesantren untuk menyaksikan pemutaran Film Perjuangan Santri. Setelah penayangan selesai, mereka mengikuti diskusi bersama para pembimbing guna mengulas pesan-pesan yang terkandung dalam film, mulai dari perjuangan menuntut ilmu, nilai keislaman, nasionalisme, hingga tantangan generasi muda di era digital.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukhtariyah, Asep Rizal Asy’ari, mengatakan pemanfaatan film merupakan salah satu bentuk inovasi pembelajaran yang menyesuaikan perkembangan zaman.
“Ini menjadi pembuktian bahwa pondok pesantren terus berinovasi dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Menurut Asep, media visual dinilai lebih dekat dengan kehidupan generasi muda sehingga mampu menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan. Melalui cerita yang disajikan, santri diajak memahami pentingnya menggunakan teknologi secara bijak, berpikir kritis, serta bertanggung jawab dalam bermedia.
Ia menilai literasi digital saat ini tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan perangkat teknologi. Santri juga perlu dibekali kemampuan menyaring informasi, memahami etika di ruang digital, serta membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan.
Karena itu, proses pembelajaran tidak berhenti setelah film selesai diputar. Para santri diajak berdiskusi, menyampaikan pandangan, mengkritisi isi cerita, hingga menghubungkan pesan film dengan kondisi yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui metode tersebut, santri diharapkan tidak hanya menjadi penikmat informasi, tetapi juga mampu menganalisis berbagai konten yang beredar di media digital secara kritis dan bertanggung jawab.
Pondok Pesantren Al-Mukhtariyah menilai penguatan literasi digital menjadi kebutuhan penting seiring meningkatnya penggunaan media sosial, aplikasi pesan instan, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin mudah diakses generasi muda. Pesantren pun berupaya membekali santri agar mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat tanpa meninggalkan nilai-nilai akhlak dan ajaran Islam.
Film yang dibintangi Babang Alqias, Reza Muhamad A, dan Sulthon Aryanasyah itu menjadi media untuk menyampaikan pesan bahwa teknologi dapat berjalan seiring dengan pendidikan karakter dan nilai-nilai keislaman.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Tasikmalaya, H. Opin, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi para orang tua yang mempercayakan pendidikan putra-putrinya di lingkungan pesantren.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh orang tua yang telah mendorong putra-putrinya untuk berproses belajar menggali ilmu di pesantren. Kepercayaan ini menjadi amanah besar bagi seluruh lembaga pendidikan Islam,” katanya.
Ia mengatakan pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan memperkuat pendidikan agama bagi generasi muda. Menurutnya, para penghafal Al-Qur’an juga perlu terus menjaga hafalannya sekaligus mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Al-Qur’an akan menjadi penolong bagi para penghafalnya. Karena itu, jangan hanya berhenti pada menghafal, tetapi teruslah menjaga hafalan, memahami maknanya, serta mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Kegiatan tersebut dihadiri pengasuh pesantren, dewan guru, santri, alumni, orang tua santri, serta sejumlah tokoh masyarakat. Melalui kegiatan ini, pesantren berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi digital secara cerdas, bijak, dan bertanggung jawab.





