News

Kemarau Melanda Bojonggambir, Ratusan Warga Antre Air Bersih di Masjid

207
×

Kemarau Melanda Bojonggambir, Ratusan Warga Antre Air Bersih di Masjid

Sebarkan artikel ini

KAB.TASIK (CM) – Sejak kemarau melanda wilayah Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, Masjid Jami Al Ihsan di Desa Kertanegla memiliki peran yang tak biasa.

Selain menjadi tempat beribadah, masjid tersebut kini menjadi sumber air bersih bagi ratusan keluarga yang kesulitan mendapatkan air akibat sumur mengering.

Setiap pagi dan sore, halaman masjid dipenuhi warga yang membawa jeriken dan galon untuk mengantre mengambil air. Kondisi itu telah berlangsung sekitar dua bulan terakhir setelah sebagian besar sumur di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat tidak lagi mengeluarkan air.

“Air sumur sudah mulai kering sejak akhir April. Dulu menggali sekitar tiga meter sudah keluar air, sekarang sampai 10 meter pun tidak ada. Jadi kami mengambil air ke masjid,” kata Dedeh Rohayati, warga Dusun Cipari, Minggu (28/6/2026).

Warga lain, Yayah, mengatakan hampir dua bulan tanpa hujan deras membuat sumber air di permukiman semakin menipis. Akibatnya, warga bergantung pada aliran air yang ditampung di Masjid Jami Al Ihsan.

“Sumur di rumah sudah kering. Air dari sumber pegunungan dialirkan ke masjid, jadi kami antre setiap pagi dan sore untuk mengambil air,” ujarnya.

Ketua DKM Masjid Jami Al Ihsan, Uun Suhendar, mengatakan pihaknya tetap membuka akses bagi warga karena air bersih merupakan kebutuhan mendasar. Namun, pengambilan air dihentikan sekitar 10 menit sebelum azan agar persediaan air mencukupi untuk keperluan wudu para jemaah.

“Memang ada dampaknya terhadap aktivitas di masjid, tetapi kami memahami kondisi masyarakat. Yang penting, sebelum azan pengambilan air dihentikan agar tetap tersedia untuk wudu,” kata Uun.

Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena tidak ada lagi sumber air lain yang mudah dijangkau warga tanpa harus menempuh perjalanan jauh.

Pemerintah Desa Kertanegla mencatat sedikitnya 600 hingga 700 kepala keluarga di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat terdampak kekeringan. Setiap hari mereka harus datang ke masjid untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, mengatakan persoalan krisis air hampir selalu terjadi setiap musim kemarau. Saat ini, sumber air yang masih mengalir hanya berada di kawasan masjid sehingga pengambilan air harus dibatasi agar dapat dinikmati seluruh warga.

“Ada dua dusun yang terdampak, yaitu Cipari dan Cipatat dengan sekitar 600 kepala keluarga. Sumber air yang masih ada dialirkan ke masjid dan pengambilannya kami batasi,” ujarnya.

Pemerintah desa telah mengajukan permohonan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan berharap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera mengirimkan pasokan air bersih. Namun hingga akhir Juni, bantuan tersebut belum diterima.

Selain distribusi air bersih, pemerintah desa juga berharap ada solusi jangka panjang berupa pembangunan sumur bor agar persoalan kekeringan tidak terus berulang setiap musim kemarau.

“Yang kami butuhkan bukan hanya bantuan air bersih, tetapi juga solusi permanen seperti pembangunan sumur bor agar kebutuhan air masyarakat tetap terjamin,” kata Bunyamin.

Untuk menjaga ketersediaan air, setiap keluarga saat ini dibatasi hanya membawa pulang dua hingga tiga jeriken per hari. Selama hujan belum turun dan sumber air belum kembali pulih, Masjid Jami Al Ihsan tetap menjadi tumpuan utama warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *