INSPIRASI

DU 68 Musik, Kunjungan Wajib Kolektor Kaset

346
×

DU 68 Musik, Kunjungan Wajib Kolektor Kaset

Sebarkan artikel ini
DU 68 Musik Kunjungan Wajib Kolektor Kaset

BANDUNG, (CAMEON) – Kendati teknologi sudah begitu canggih, DU 68 Musik masih tetap berdiri kokoh di pusat Kota Bandung. Tempat ini seolah surga bagi mereka pecinta dan kolektor rilisan fisik.

Jika anda mengunjungi kawasan jalan Dipatiukur Kota Bandung, di situ anda bisa melihat toko-toko berjajar rapi di seputaran jalan tersebut. Mulai dari toko fotocopy, alat-alat tulis, toko makanan, parfum dan lainnya.

Maklum saja, jalan Dipatiukur Kota Bandung salah satu jalan yang di kerap dipadati oleh para mahasiswa. Seperti diketahui, di jalan ini terdapat beberapa perguruan tinggi berada di area tersebut, sehingga tak heran jika di jalan Dipatiukur banyak toko yang menjual kebutuhan alat-alat perkuliahan.

Namun apakah anda pernah melirik Dipatiukur 68 B? Jika belum, ya, tepatnya di lantai II sebrang SPBU jalan Dipatiukur 68 B Kota Bandung, di situ terdapat satu toko yang tidak begitu luas, namun tempat tersebut kerap dikunjungi oleh para kolektor kaset, Compact Disch (CD), Piringan Hitam (PH).

Toko ini diberi nama DU 68 Musik. Toko mini milik Irham Vickry ini, banyak menjual kaset-kaset mulai dari era 1960 hingga 2015. Buat penggila rilisan kaset, tentu saja keberadaan toko ini menjadi surga bagi mereka yang ingin memenuhi rak-rak atau koleksi kaset di rumahnya tersebut.

DU 68 Music saat ini memiliki lebih dari 15 ribu kaset. Di tempat ini terdapat beberapa
kaset seperti Louis Armstrong, Frank Sinatra, Glenn Miller, bahkan untuk klasik seperti Beethoven, Johann Sebastian Bach, Vivaldi, Tchaikovsky juga tersedia di toko yang sudah berdiri 16 tahun ini.

“Sampai ke yang modern kayak Oasis, Morrissey, The Smith, Bad Religion, NOFX, Sepultura, Metallica, Dream Theater, juga ada kok,” ujar Owner DU 68 Music Vickry Irham, ditemui CAMEON, belum lama ini.

Tidak hanya sampai di situ, DU 68 Musik juga memiliki koleksi kaset artis asal Indonesia, seperti, Oslan Husein, Tetty Kadi, Lilis Surjani, Benjamin S, Titiek Sandhora/Muchsin, Koes Plus, Panbers, The Mercy’s dan lainnya.

“Kaset tertua termuda tergantung liat dari sudut pandang mana? Kalo dari tahun keluarannya, di Indonesia teknologi kaset Mulai ada dari akhir 1960-an. Diperkenalkan  ke masyarakat awal 70-an. Booming dari 70-an, 80-an, 90-an. Diatas 2010 industri musik rontok. Tapi kaset tahun sekarang 2015 kemarin pun banyak yang masih rilis kok. Utamanya indie labels,” papar Vickry.

Meski saat ini masuk dalam era serba digital, namun tak sedikit orang Indonesia yang masih banyak mengkoleksi kaset maupun vinyls. Hal ini tentu saja menjadi sebuah trend yang muncul kembali setelah sekian lama menghilang.

“Kaset dan vinyls belakangan ini malah jadi trend lagi. Banyak group Indonesia yang bikin lagi versi vinyls /PH kayak Naif, Seringai, Mocca, BurgerKill, dan lainnya. Tentu peminatnya tidak sebanyak dulu di era keemasan rilis fisik, tapi tetap masih ada peminat umumnya dari fans club, kolektor dan komunitas,” paparnya.

Disinggung mengenai harga, pria asal Aceh yang kini menetap di Kota Bandung ini mengatakan, untuk harga kaset, CD maupun PH cukup berfariasi. Mulai dari Rp. 10.000, Rp. 45.000 hingga Rp. 450.000. “Harga mah, cukup berfariasi lah,” singkatnya.

Dia berharap, dengan adanya toko-toko musik seperti ini, ke depannya masyarakat bisa menghargai karya dari seorang musisi dan artis agar bisa membeli rilisan secara fisik.

“Musisi dan artis-artis musik itu, mereka hidupnya dari situ, kalau kita tidak menghargai, atau membeli yang bajakan, berarti kita tidak menghargai hasil karya mereka,” pungkasnya.

Di temui di tempat yang sama, Budi salah satu konsumen setia DU 68 Musik mengatakan, bukan tanpa alasan dia dan rekan-rekannya kerap mengunjungi toko ini. Kunjungan dia ke DU 68 Musik tentu saja untuk membeli kaset-kaset yang sudah sangat sulit di temukan.

Selain koleksi, dengan membeli kaset, menurut dia, sebagai bentuk penghargaan kepada musisi atau artis yang sudah membuat sebuah karya terbaiknya. Selain itu juga, seolah memiliki kepuasan serta kebanggann tersendiri, dari segi audio pun jauh lebih baik.

“Alasannya saya membeli kaset, ada momen di era 90-an itu kayak flashback, dulunya masa-masanya susah, ada sesuatu yang bisa dilihat lebih visual, segi audio juga beda, kalau dari format di mp3 beda jauh,” terangnya.

Jadi tunggu apa lagi, jika berminat untuk mengkoleksi kaset, CD, PH, atau Vinyls, langsung saja kunjungi toko DU 68 Musik. cakrawalamedia.co.id (kky)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *