News

Pelatihan Jahe Instan di Tasikmalaya Dorong Warga Naik Kelas Jadi Pelaku Usaha

42
×

Pelatihan Jahe Instan di Tasikmalaya Dorong Warga Naik Kelas Jadi Pelaku Usaha

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Membuat jahe merah dan kunyit menjadi minuman instan menjadi pilihan untuk membuka peluang usaha baru bagi warga Kota Tasikmalaya. Sebanyak 13 peserta mengikuti pelatihan pengolahan dua bahan herbal tersebut selama tiga hari, 10–12 September 2026.

Pelatihan digelar Bidang PAUD Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya bersama Anggota DPRD Fraksi PDIP Kepler Sianturi dan Yayasan LKP Bimbel Anugrah di Jalan Paseh Gn. Ceuri Nomor 132. Kegiatan berlangsung selama 16 jam dan dibiayai melalui anggaran Pemerintah Kota Tasikmalaya dari aspirasi DPRD.

Kepala Bidang PAUD Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Yogi mengatakan pelatihan tersebut diarahkan untuk memperkuat peran pendidikan nonformal dalam mendukung program Tasik Pintar dan Tasik Pelak.

“Pemerintah Kota melalui Dinas Pendidikan berharap pendidikan nonformal bisa lebih berkiprah mendukung program daerah, yaitu Tasik Pintar dan Tasik Pelak. Hari ini kami selenggarakan pelatihan pengolahan kunyit dan jahe merah instan,” kata Yogi, Kamis, 10 September 2026.

Jumlah peserta dibatasi 13 orang karena keterbatasan anggaran. Yogi mengatakan kondisi fiskal daerah tidak menjadi alasan untuk menghentikan program pemberdayaan.

“Meskipun terbatas, kita tetap berjalan memanfaatkan potensi yang ada,” ujarnya.

Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Kepler Sianturi mengatakan pelatihan tersebut dirancang agar keterampilan yang diperoleh peserta bisa langsung menjadi modal usaha.

“Ini bentuk kepedulian DPRD mendorong masyarakat punya keterampilan produktif yang bisa langsung diterapkan,” kata Kepler.

Peserta tidak hanya menerima teori. Mereka mempraktikkan seluruh tahapan produksi, mulai dari memilih bahan baku, mengeringkan, menggiling, hingga mengemas jahe merah dan kunyit menjadi produk instan.

“Tujuannya agar peserta menguasai alur produksi dari hulu ke hilir. Setelah punya skill, bisa jadi usaha sendiri. Dari situ bisa muncul pelaku UMKM baru di Tasikmalaya,” ujarnya.

Kepler mengatakan keterampilan tersebut perlu diikuti pendampingan setelah pelatihan. Pemerintah, kata dia, perlu membantu peserta dalam akses permodalan, perizinan, legalitas produk, dan pemasaran.

“Mulai dari permodalan, legalitas produk, hingga akses pemasaran. Kami ingin ini jadi langkah awal agar masyarakat mandiri dan taraf hidupnya meningkat,” katanya.

Penasihat Yayasan LKP Bimbel Anugrah sekaligus instruktur pelatihan, Sugiharto, mengatakan produk jahe merah dan kunyit instan yang dia kembangkan berawal dari masa pandemi Covid-19.

Ketika banyak usaha berhenti, Sugiharto justru melakukan sejumlah percobaan hingga menghasilkan produk minuman instan berbahan jahe merah dan kunyit.

“Bahan pokoknya jahe merah, gula pasir, gula aren. Bumbunya ada cengkeh, kapulaga, lada hitam, serai agar kandungan herbalnya lebih lengkap,” kata Sugiharto.

Produk tersebut saat ini mengantongi izin P-IRT. Sugiharto mengatakan produksinya belum dapat mencantumkan klaim khasiat tertentu. Untuk memperoleh izin BPOM, tempat produksi harus memenuhi persyaratan, termasuk pemisahan dari rumah tinggal.

Persoalan berikutnya adalah pemasaran. Menurut Sugiharto, produksi relatif mudah dilakukan, sedangkan memperluas pasar membutuhkan konsistensi.

“Membuatnya gampang. Tapi memasarkan tergantung keuletan,” ujarnya.

Produk yang dikembangkannya kini telah dipasarkan di sejumlah tempat, antara lain Apotek Prima dan Asia Plaza. Produksi juga sempat meningkat selama pandemi Covid-19.

Bagi peserta, pelatihan tersebut membuka kemungkinan usaha yang sebelumnya tidak terpikirkan. Yati, salah seorang peserta, mengatakan baru pertama kali mengikuti pelatihan pembuatan jahe merah instan.

“Alhamdulillah senang. Ini jalan keluar buat usaha saya. Selama ini saya jualan bensin eceran. Mudah-mudahan setelah ini bisa bikin dan jualan jahe sendiri,” kata Yati.

Ia berharap keterampilan tersebut bisa menjadi sumber pendapatan baru.

“Hari ini senang, ada dukungan dari Pak Dewan dan teman-teman,” ujarnya.

Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya mengatakan program serupa tidak hanya menyasar pengolahan produk herbal. Sebanyak tujuh yayasan atau lembaga lain juga mendapat pelatihan melalui dana aspirasi DPRD dengan bidang berbeda, antara lain tata boga dan tata rias wajah.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pendidikan nonformal agar tidak berhenti pada pemberian keterampilan, tetapi berlanjut menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *