Kolom

Dari Kuliner Sunda ke Layar Digital: Strategi Komunikasi Media Sosial untuk Memperkuat Pariwisata Jawa Barat

685
×

Dari Kuliner Sunda ke Layar Digital: Strategi Komunikasi Media Sosial untuk Memperkuat Pariwisata Jawa Barat

Sebarkan artikel ini

Rosaria Mita Amalia, Kasno Pamungkas, Eva Tuckytasari Sujatna, Lia Maulia Indrayani, Susi Yuliawati, Randy Ridwansyah (Tim PPM dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)

CAKRAWALA MEDIA.CO.ID – Kuliner tradisional Sunda bukan sekadar persoalan rasa. Di balik nasi timbel, lotek, surabi, batagor, peuyeum, hingga beragam sajian khas lainnya, terdapat identitas budaya, sejarah, nilai sosial, dan potensi ekonomi yang dapat menjadi kekuatan pariwisata Jawa Barat.

Di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin bergantung pada media digital, cara memperkenalkan kekayaan kuliner tersebut pun ikut berubah.

Media sosial kini bukan hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi telah berkembang menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun citra destinasi, menarik wisatawan, sekaligus memperkenalkan produk dan budaya lokal kepada khalayak yang lebih luas.

Persoalan inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Unpad Bermanfaat FIB Unpad di Desa Wisata Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran melalui materi bertajuk “Strategi Komunikasi Media Sosial dalam Promosi Pariwisata Berbasis Kuliner Tradisional Sunda” dan “Strategi Pemasaran Pariwisata: Desa Wisata Selasari, Pangandaran” oleh para dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi untuk menghadirkan pengetahuan akademik yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan pemangku kepentingan.

Dalam kegiatan ini, tim PPM FIB Unpad menempatkan penguatan kapasitas komunikasi dan pemanfaatan potensi budaya sebagai bagian penting dari kontribusi akademisi kepada masyarakat.

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara wisatawan mencari informasi. Jika sebelumnya promosi destinasi sangat bergantung pada brosur, iklan konvensional, pameran, atau promosi dari mulut ke mulut, kini calon wisatawan dapat mengenal sebuah destinasi melalui satu unggahan Instagram atau video pendek di TikTok. Karena itu, institusi pemerintah dan pelaku yang bergerak di bidang pariwisata dan kebudayaan perlu memandang media sosial sebagai bagian dari strategi komunikasi, bukan sekadar sebagai papan pengumuman digital.

Materi PPM FIB Unpad menunjukkan bahwa pengelolaan media sosial institusi perlu dilakukan secara terencana, mulai dari pemilihan platform, penentuan target audiens, perencanaan konten, estetika visual, penggunaan bahasa, hingga pengelolaan interaksi dengan masyarakat.

Instagram, khususnya melalui format Reels, dan TikTok menjadi platform yang potensial karena karakter visual dan video pendeknya sesuai dengan perilaku generasi muda. Sasaran komunikasi dapat mencakup wisatawan domestik, generasi Z dan milenial, serta kelompok pencinta kuliner atau foodies.

Salah satu gagasan penting yang ditawarkan dalam kegiatan PPM tersebut adalah melihat kuliner tradisional sebagai bagian dari pengalaman budaya. Ketika sebuah konten hanya menampilkan makanan sebagai objek visual, informasi yang disampaikan menjadi terbatas pada bentuk dan rasa.

Sebaliknya, ketika konten juga menjelaskan asal-usul makanan, bahan yang digunakan, cara memasak, filosofi, tradisi, serta kaitannya dengan kehidupan masyarakat, kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk memahami budaya.

Karena itu, terdapat setidaknya tiga pilar konten yang dapat dikembangkan. Pertama, eksplorasi rasa dan resep, yaitu menampilkan keunikan bahan serta proses pembuatan makanan khas Sunda. Kedua, rekomendasi destinasi, yaitu menghubungkan lokasi kuliner dengan objek wisata yang berada di sekitarnya.

Wisatawan tidak hanya diajak makan, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai pengalaman wisata yang lebih lengkap. Ketiga, edukasi budaya, yakni memberikan informasi mengenai filosofi dan sejarah makanan tradisional, termasuk tradisi ngabotram atau sejarah makanan seperti nasi timbel.

Dalam komunikasi digital, visual memiliki peran yang sangat penting. Namun, estetika visual perlu tetap disertai identitas objek. Penggunaan warna, bingkai visual, dan logo yang konsisten dapat membantu membangun brand awareness. Bahasa yang digunakan juga tidak kalah penting.

Media sosial institusi sebaiknya menggunakan bahasa yang ramah, informatif, dan persuasif. Penggunaan bahasa Indonesia yang komunikatif dapat dipadukan dengan sentuhan bahasa atau istilah lokal Sunda, seperti “raos pisan” selama penggunaannya sesuai dengan konteks, terutama berkaitan dengan objek makanan tradisional. Dengan demikian, bahasa bukan hanya alat menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang ingin ditampilkan.

Keberhasilan media sosial tidak semata-mata diukur dari jumlah pengikut. Yang lebih penting adalah bagaimana institusi membangun hubungan dengan audiens. Fitur seperti polling, Q&A, dan quiz di Instagram Story juga dapat digunakan untuk menciptakan komunikasi dua arah. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak lagi ditempatkan hanya sebagai penerima informasi. Mereka dapat menjadi bagian dari proses produksi dan penyebaran informasi pariwisata. Strategi ini sejalan dengan perubahan karakter komunikasi digital yang semakin interaktif. Institusi bukan hanya berbicara kepada masyarakat, tetapi juga mendengarkan dan merespons masyarakat.

Pada kegiatan tersebut turut disampaikan bahwa konten berbasis video memiliki jangkauan dan interaksi yang lebih tinggi dibandingkan gambar statis, khususnya ketika menampilkan proses atau masakan tradisional. Ketika sebuah makanan lokal semakin dikenal, peluang kunjungan wisatawan meningkat.

Ketika kunjungan meningkat, pelaku usaha kuliner, pedagang, pengrajin, pengelola akomodasi, transportasi, dan sektor ekonomi kreatif lainnya juga berpotensi memperoleh manfaat. Dengan kata lain, komunikasi digital dapat menjadi jembatan antara kekayaan budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Hasil analisis yang disampaikan dalam materi PPM menunjukkan bahwa konten berbasis video memiliki jangkauan dan interaksi yang lebih tinggi dibandingkan gambar statis, khususnya ketika menampilkan proses atau masakan tradisional.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa kuliner memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai content magnet dalam promosi pariwisata. Konten kuliner yang menarik dapat meningkatkan kesadaran terhadap destinasi sekaligus membantu memperkenalkan pelaku UMKM lokal.

Artinya, promosi kuliner tidak berhenti pada kepentingan pariwisata. Ia dapat memiliki efek berantai terhadap ekonomi masyarakat. Ketika sebuah makanan lokal semakin dikenal, peluang kunjungan wisatawan meningkat. Ketika kunjungan meningkat, pelaku usaha kuliner, pedagang, pengrajin, pengelola akomodasi, transportasi, dan sektor ekonomi kreatif lainnya juga berpotensi memperoleh manfaat. Dengan kata lain, komunikasi digital dapat menjadi jembatan antara kekayaan budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Melalui kegiatan PPM Unpad Bermanfaat ini, perguruan tinggi memiliki ruang untuk menerjemahkan hasil kajian akademik menjadi pengetahuan yang aplikatif bagi masyarakat. Kegiatan PPM FIB Unpad ini menunjukkan bahwa ilmu linguistik, komunikasi, budaya, dan pariwisata dapat bertemu dalam satu ruang yang sama.

Kajian bahasa dapat membantu memahami bagaimana pesan dibangun; kajian budaya membantu memastikan bahwa identitas lokal tetap terjaga; sementara perspektif komunikasi dan pariwisata membantu memastikan pesan tersebut dapat menjangkau masyarakat secara efektif.

Dengan strategi komunikasi yang terencana, visual yang menarik, narasi yang kuat, interaksi yang responsif, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan, kuliner Sunda dapat hadir bukan hanya sebagai sajian di meja makan, tetapi sebagai cerita budaya yang hidup di ruang digital.

Dari sinilah promosi pariwisata dapat bergerak lebih jauh dari sekadar memperkenalkan tempat menjadi membangun pengalaman, dari sekadar mempromosikan makanan menjadi memperkuat identitas, dan dari sekadar membuat konten menjadi membangun ekosistem pariwisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.