KOTA TASIK (CM) – Ari Kardianto, 34 tahun, memilih jalan berbeda setelah meninggalkan masa lalunya bersama Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Kini, ia belajar meracik kopi dan menyiapkan diri menjadi barista profesional.
Pelatihan barista bersertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang digelar Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya menjadi salah satu pintu bagi Ari untuk kembali membangun kehidupan di tengah masyarakat.
“Jihad tidak harus dengan kekerasan. Jihad saya sekarang adalah jadi pejuang untuk keluarga, cari nafkah yang halal, dan jadi contoh baik buat teman-teman eks-napiter lain,” kata Ari.
Ari merupakan satu dari eks-narapidana terorisme yang mendapat kesempatan mengikuti pelatihan kerja melalui kemitraan informal antara Disnaker Kota Tasikmalaya dan Yayasan Ansarul Tauhid.
Kepala Disnaker Kota Tasikmalaya Deni Diyana mengatakan program tersebut tidak membedakan latar belakang peserta. Pemerintah, kata dia, berkepentingan memastikan mantan napiter memiliki keterampilan dan kesempatan untuk kembali berkontribusi.
“Kami secara informal sudah jalin kerja sama dengan Yayasan Ansarul Tauhid. Komitmen kami untuk kembangkan SDM para mantan napiter, agar kembali melebur dan menyatu dengan masyarakat,” ujar Deni, Kamis, 3 September 2026.
Menurut Deni, masa lalu tidak seharusnya menjadi penghalang seseorang untuk memperbaiki kehidupan. Pemerintah memilih membuka ruang bagi mereka yang ingin kembali menjadi bagian dari masyarakat.
“Biar bagaimanapun mereka itu WNI dan bagian dari masyarakat yang harus kita bina. Mungkin dulu pernah berseberangan dengan NKRI, tidak masalah. Setiap orang punya perjalanan hidup. Yang penting sekarang sudah kembali ke pangkuan NKRI dan ingin membangun negeri, ya kita rangkul,” katanya.
Saat ini baru satu eks-napiter yang mengikuti pelatihan barista tersebut. Disnaker berharap program serupa dapat menjangkau lebih banyak eks-napiter, mantan narapidana umum, maupun warga yang menghadapi persoalan sosial.
Bagi Ari, keterampilan baru bukan sekadar bekal mencari pekerjaan. Pelatihan itu menjadi bagian dari upayanya membangun kembali hubungan dengan masyarakat.
“Saya apresiasi Disnaker yang kasih perhatian lewat pelatihan barista ini. Ini membuka jalan kami untuk bersosialisasi dan berkontribusi lagi,” ujarnya.
Ari juga tak ingin berhenti sebagai barista. Bersama sejumlah eks-napiter lainnya, ia membentuk Koperasi Bumi Nusantara Maju yang mengelola perkebunan kopi di Karaha Bodas.
Pelatihan barista menjadi pelengkap usaha mereka dari hulu ke hilir. Jika perkebunan menghasilkan biji kopi, keterampilan meracik kopi membuka peluang untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
“Di kebun kita tanam dan panen. Lewat pelatihan ini kita belajar mengolah dan menyajikan. Harapannya nanti bisa buka kedai sendiri, dan buka lapangan kerja untuk orang lain,” kata Ari.
Ia ingin perjalanan hidupnya menjadi contoh bahwa perubahan dapat dimulai dari hal sederhana: bekerja, menghidupi keluarga, dan memberi manfaat kepada orang lain.
Ari memegang prinsip khairunnas anfauhum linnas, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
“Program dari Disnaker ini dampaknya besar. Mudah-mudahan terus berlanjut untuk kami, masyarakat, bangsa dan negara,” ujarnya.
Deni menegaskan Disnaker akan terus membuka akses pelatihan bagi warga tanpa melihat masa lalu mereka.
“Tidak jadi soal dulu pernah jadi apa. Yang penting mereka ingin jadi apa di masa depan,” kata Deni.





