News

Akses Komunikasi Masih Jadi Tantangan, Tee Jay Water Park Mulai Gunakan Simbol Bahasa Isyarat

321
×

Akses Komunikasi Masih Jadi Tantangan, Tee Jay Water Park Mulai Gunakan Simbol Bahasa Isyarat

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Pelayanan ramah disabilitas tak berhenti pada penyediaan jalur kursi roda atau toilet khusus. Akses komunikasi juga menjadi kebutuhan yang kerap luput dari perhatian pengelola ruang publik.

Kesadaran itu mulai diterapkan Tee Jay Water Park Tasikmalaya. Pengelola memasang papan simbol bahasa isyarat di depan loket tiket untuk memudahkan komunikasi dengan pengunjung penyandang tunarungu.

Chief Operational Tee Jay Water Park, Dicky Purnama, mengatakan papan simbol tersebut menjadi langkah awal memperbaiki kualitas pelayanan bagi seluruh pengunjung.

“Ini merupakan ikhtiar kami agar pelayanan kepada seluruh pengunjung, khususnya penyandang tunarungu, menjadi lebih mudah,” kata Dicky, Rabu, 15 Juli 2026.

Menurut dia, keberadaan papan simbol langsung memberi manfaat ketika petugas melayani pengunjung dengan hambatan pendengaran, terutama saat musim liburan sekolah yang membuat jumlah wisatawan meningkat.

“Sangat membantu. Kemarin ada pengunjung tunarungu yang datang ke sini,” ujarnya.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa kebutuhan akses komunikasi di destinasi wisata bukan persoalan yang bersifat insidental, melainkan bagian dari pelayanan yang semestinya disiapkan sejak awal.

Pemasangan papan simbol bahasa isyarat merupakan tindak lanjut atas imbauan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Wilayah Tasikmalaya-Cirebon. Organisasi itu mendorong pengelola pusat perbelanjaan dan kawasan rekreasi meningkatkan layanan bagi penyandang disabilitas.

Ketua APPBI Wilayah Tasikmalaya-Cirebon, Lucy Sosilawaty, mengatakan pelayanan inklusif tidak cukup diwujudkan melalui penyediaan fasilitas fisik. Menurut dia, kemampuan berkomunikasi dengan penyandang disabilitas juga harus menjadi perhatian penyedia layanan publik.

“Minimal kita mengenalkan simbolnya walaupun belum ada CSO yang benar-benar menguasai bahasa isyarat,” katanya.

Lucy menuturkan sebagian besar petugas layanan pelanggan di pusat perbelanjaan maupun tempat wisata masih mengandalkan gerakan tangan sederhana atau tulisan di telepon seluler saat berinteraksi dengan pengunjung tunarungu. Cara itu membantu, tetapi belum memberikan pengalaman pelayanan yang optimal.

Karena itu, APPBI Tasikmalaya-Cirebon mulai menyiapkan pelatihan bahasa isyarat dasar bagi petugas layanan pelanggan. Pelatihan tersebut ditujukan agar petugas mampu memahami kebutuhan pengunjung penyandang disabilitas, bukan untuk mencetak penerjemah profesional.

Menurut Lucy, pelayanan yang baik berawal dari komunikasi yang setara. Dengan komunikasi yang lebih mudah, penyandang disabilitas dapat memperoleh layanan tanpa hambatan sekaligus merasa dihargai sebagai pengguna fasilitas publik.

Langkah Tee Jay Water Park sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin hak penyandang disabilitas atas aksesibilitas dan pelayanan publik. Dalam konteks penyandang tunarungu, aksesibilitas tidak hanya berupa infrastruktur fisik, tetapi juga penyediaan media komunikasi yang memudahkan interaksi.

Inisiatif tersebut mendapat respons positif dari pengunjung. Kehadiran papan simbol bahasa isyarat dinilai tidak hanya membantu penyandang tunarungu, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal bentuk komunikasi yang lebih inklusif.

Upaya serupa diharapkan dapat diikuti pengelola pusat perbelanjaan, destinasi wisata, dan fasilitas publik lainnya sehingga ruang-ruang layanan semakin terbuka bagi semua kalangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *