Tasikmalaya

Hujan lebat, Arifin Pilih Nginap di Sekolah

98
×

Hujan lebat, Arifin Pilih Nginap di Sekolah

Sebarkan artikel ini
Hujan Lebat, Arifin Nginep di Sekolah

TASIKMALAYA, (CAMON) – Tak nampak kemeriahaan pada wajah mereka, sekolah pun sepi, maklum muridnya hanya berjumlah 9 orang. Baju lusuh dan kaki telanjang adalah pemandangan yang ironis di tanggal 02 Mei tahun ini. Sejumlah sekolah sedang berlomba- lomba membangun karakter dan watak anak didiknya. Berbagai sarana dan prasarana yang sangat mumpuni dilaksanakan agar mereka berhasil dan sukses dalam menggapai cita-citanya.

Tapi, bagi para siswa siswi di SD kelas jauh Parentas di kampung Buligir Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya, bisa membaca dan menghitung sudahlah cukup.   Mereka tentu bukanlah dari keluarga berada. Keberadaan sekolah dengan kampung mereka pun berjarak kurang lebih15 km.

” Inilah yang melandasi SD Buligir membuka kelas jauh ,” terang Arifin, satu satunya Guru di sekolah ini. Bukanlah mudah menjadi seorang guru pengabdi seperti Arifin. Sejak diangkat menjadi PNS tahun 2006 lalu, Arifin sudah mengabdikan dirinya hingga tahun 2016. Bahkan, Arifin menjadi guru satu satunya di sekolah ini yang mengajar kelas berbeda dari kelas 1 hingga kelas 5.

Arifin, bapak 3 orang anak ini, menuturkan bahwa yang paling berat adalah transportasi menuju sekolah yang kerap menjadi kendala. Jalan batu yang terjal dan licin ditambah ancaman tanah longsor, kurang lebih sepanjang 10 km harus dia lalui dengan kendaraan motor tuanya. Jika hujan turun lebat, Arifin memutuskan untuk menginap di sekolahnya.

” Kalau hujan besar, ya saya ga pulang karena takut di jalannya, nginap aja di sekolah kasihan anak anak kalau besoknya saya tidak mengajar karena sakit kehujanan, ” ujar Arifin.
Di Hari Pendidikan Nasional ini, Arifin hanya berharap pemerintah sudi untuk menyisihkan anggaran untuk intensif bagi para guru yg terpencil seperti dirinya. Biaya transportasi dari rumahnya saja, gaji sebulan yang ia terima tentu belumlah cukup. Arifin hanya mengandalkan alat transportasi motor tua pemberian kantor UPTD Cigalontang.

” Sering saya putus rantai atau ban pecah di tengah jalan sementara jarak ke sekolah masih jauh, ya terpaksa saya dorong ,” kenang Arifin.

Meski demikian, Arifin merasa cukup mengabdi menjadi guru kelas jauh di kaki Gunung Galungung ini. Ia berharap ada pengganti dirinya yang sudah berusia 51 tahun ini.

“Kalau inginnya sih, ada yang ganti saya sudah cukup lama di sini, ” pungkasnya. cakrawalamedia.co.id (dzm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *