News

Hari Bumi 2026, Warga Tasikmalaya Suarakan Krisis Lingkungan Lewat Ngarumat Hulu Cai

53
×

Hari Bumi 2026, Warga Tasikmalaya Suarakan Krisis Lingkungan Lewat Ngarumat Hulu Cai

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Peringatan Hari Bumi 2026 di Kota Tasikmalaya berlangsung berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Melalui kegiatan bertajuk “Ngarumat Hulu Cai”, masyarakat tidak hanya menggelar seremoni, tetapi juga menyuarakan kegelisahan sekaligus kritik terhadap kondisi lingkungan yang dinilai semakin mengkhawatirkan.

Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Mata Air Gedong Cai, Gunung Kokosan, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Rabu 22 April 2026, menjadi ruang refleksi bersama atas kondisi hulu sebagai sumber kehidupan.

Panitia kegiatan menyampaikan, kondisi lingkungan di wilayah hulu saat ini menunjukkan penurunan yang signifikan. Hal itu ditandai dengan berkurangnya tutupan vegetasi, menurunnya daya serap tanah, hingga berkurangnya debit mata air.

“Jika hulu rusak, maka krisis di hilir hanya tinggal menunggu waktu. Ini alarm serius yang tidak bisa diabaikan,” ujar perwakilan panitia dalam keterangannya.

Menurut panitia, kondisi tersebut merupakan akumulasi dari berbagai persoalan, termasuk alih fungsi lahan yang tidak terkendali serta lemahnya pengawasan terhadap kawasan resapan air.

“Krisis ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Ini akibat dari pembiaran dan lemahnya komitmen dalam menjaga lingkungan. Jika tidak ada langkah tegas, maka risiko krisis air akan menjadi kenyataan,” tegasnya.

Dalam konteks tersebut, masyarakat mendorong Pemerintah Kota Tasikmalaya dan DPRD untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola lingkungan, termasuk kebijakan dan alokasi anggaran yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan.

Panitia menilai, kehadiran pemerintah tidak cukup hanya dalam kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam langkah konkret dan terukur untuk melindungi kawasan hulu.

Kegiatan Ngarumat Hulu Cai sendiri tidak hanya bersifat budaya, tetapi juga menjadi gerakan moral yang menggabungkan nilai spiritual, kearifan lokal, dan aksi nyata pelestarian lingkungan.

Dalam kearifan lokal Sunda, air dipandang bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian penting dari kehidupan. Hal ini tercermin dalam pepatah, “cai lain saukur ngalir, tapi ngalantarankeun kahirupan.”

Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan meliputi kirab budaya keliling Kota Tasikmalaya, doa dan ritual Ngarumat Hulu Cai, aksi bersih kawasan hulu mata air, ritual budaya tanam, serta pertunjukan seni dan budaya.

Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan, khususnya sumber air, dapat semakin meningkat. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal juga diharapkan tetap terjaga sebagai pedoman moral dalam kehidupan.

“Ngarumat Hulu Cai adalah pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab masyarakat, tetapi juga negara,” ujar panitia.

Peringatan Hari Bumi, lanjutnya, seharusnya menjadi momentum perubahan nyata, bukan sekadar agenda simbolik tahunan.

Sebagaimana pesan leluhur Sunda, “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak,” yang mengandung makna bahwa kerusakan alam akan berdampak langsung pada kehidupan manusia.

Jika kondisi ini terus diabaikan, masyarakat khawatir yang akan diwariskan kepada generasi mendatang bukanlah keberlanjutan, melainkan krisis lingkungan yang semakin kompleks.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *