News

Jelang Lebaran, Usaha Parcel di Kota Tasikmalaya Lesu, Order Perusahaan Berkurang

50
×

Jelang Lebaran, Usaha Parcel di Kota Tasikmalaya Lesu, Order Perusahaan Berkurang

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Menjelang hari raya, usaha parcel biasanya memasuki masa paling sibuk. Namun kondisi berbeda dirasakan sejumlah perajin parcel di Kota Tasikmalaya tahun ini.

Salah satunya dialami Ina Tina, perajin parcel yang telah menjalankan usaha tersebut sejak tahun 2000. Di rumah produksinya di kawasan Jalan Tentara Kita, aktivitas pembuatan parcel tetap berjalan, tetapi tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Tina mengatakan pesanan parcel untuk musim Lebaran kali ini mengalami penurunan. Menurutnya, order dari sejumlah perusahaan yang biasanya menjadi pelanggan utama berkurang dibandingkan tahun sebelumnya.

“Terjadi penurunan omzet untuk order pesanan dari beberapa perusahaan sekitar 20 persen,” kata Tina saat ditemui di rumah produksinya, Jumat 13 Maret 2026.

Biasanya, perusahaan memesan parcel dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada relasi maupun karyawan. Dalam satu musim Lebaran, pesanan bisa mencapai ratusan hingga ribuan paket.

Parcel yang dibuat umumnya berisi aneka makanan ringan, biskuit, sirup hingga produk kebutuhan rumah tangga yang dikemas dengan dekorasi pita dan plastik warna-warni.

Namun tahun ini jumlah pesanan dari perusahaan terlihat berkurang. Tina menduga kondisi ekonomi membuat sebagian perusahaan melakukan efisiensi pengeluaran.

“Kebanyakan memang dari perusahaan yang berkurang pesanannya,” ujarnya.

Ia menilai perlambatan ekonomi turut memengaruhi daya beli masyarakat. Ketika kondisi ekonomi tidak stabil, banyak pihak yang mulai menekan pengeluaran yang dianggap tidak terlalu mendesak.

“Mungkin secara umum ekonomi lagi tidak bagus ya, lagi sulit,” kata Tina.

Selain itu, ia menduga sebagian masyarakat juga belum menerima tunjangan hari raya sehingga pembelian parcel menjadi lebih terbatas.

Tina juga melihat adanya perubahan tren dalam pemberian hadiah saat Lebaran. Jika sebelumnya parcel makanan menjadi pilihan utama, kini sebagian orang mulai memilih hadiah lain seperti mukena atau sarung.

“Ayeuna mah teu ku parcel tapi mungkin ku mukena,” ujarnya.

Meski pesanan dalam jumlah besar menurun, Tina mengatakan pembelian secara eceran justru meningkat dibandingkan tahun lalu. Konsumen kini lebih banyak mencari parcel dengan harga terjangkau.

Menurutnya, parcel yang paling diminati saat ini berada pada kisaran harga di bawah Rp100 ribu. Paket tersebut biasanya berisi kombinasi makanan ringan dan minuman yang dikemas sederhana.

Perubahan pola pembelian ini juga membuat proses pelayanan menjadi lebih rumit. Jika sebelumnya sebagian besar pesanan datang dari perusahaan dengan jumlah banyak dan isi yang sama, kini ia harus melayani banyak pembeli dengan permintaan yang berbeda.

“Makanya sekarang agak repot pelayanannya harus lebih banyak, beda dengan konsumen dari perusahaan,” katanya.

Meski omzet menurun, Tina tetap optimistis usahanya bisa bertahan. Selama lebih dari dua dekade menjalankan bisnis parcel, ia mengaku sudah terbiasa menghadapi perubahan kondisi pasar.

Ia pun terus menyesuaikan jenis isi parcel, desain kemasan, hingga variasi harga agar tetap diminati oleh masyarakat.

“Yang penting tetap usaha saja. Mudah-mudahan nanti ekonomi membaik dan pesanan juga bisa naik lagi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *