News

Tingkatkan Kompetensi Guru Seni, DPRD Tasikmalaya Dukung Program Tasik Pintar

327
×

Tingkatkan Kompetensi Guru Seni, DPRD Tasikmalaya Dukung Program Tasik Pintar

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Sebanyak 30 guru Seni dan Budaya tingkat SMP negeri dan swasta se-Kota Tasikmalaya mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi yang digelar selama tiga hari.

Kegiatan ini menghadirkan Anggota DPRD Komisi II Kota Tasikmalaya Kepler Sianturi dan Kepala Bidang Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Nia Kurnia.

Pelatihan difokuskan pada penguatan seni musik, mulai dari teknik vokal, kemampuan memainkan alat musik, hingga mendorong kreativitas guru dalam menciptakan karya. Program ini bertujuan meningkatkan mutu pembelajaran seni di sekolah.

Kepler Sianturi mengatakan pelatihan tersebut tidak hanya sekadar menghadirkan hiburan, tetapi menjadi ruang strategis untuk membentuk karakter siswa melalui pendidikan seni.

“Pelatihan ini bukan hanya untuk dinikmati, tetapi menjadi ruang membangun karakter murid. Setelah mengikuti kegiatan ini, guru diharapkan mampu mengkolaborasikan seni dengan proses pendidikan di sekolah,” ujar Kepler.

Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam menggali potensi serta bakat siswa, khususnya di bidang musik. Ia menilai banyak siswa memiliki kemampuan luar biasa yang perlu diarahkan dan difasilitasi sejak dini.

Kepler menyebut program peningkatan kompetensi guru seni budaya tingkat SMP ini merupakan bagian dari tujuh prioritas pembangunan Pemerintah Kota Tasikmalaya, salah satunya program Tasik Pintar.

“Melalui peningkatan kompetensi ini, kami mendukung program Tasik Pintar. Harapannya, pendidikan seni di Kota Tasikmalaya bisa berkembang seperti di negara lain, di mana anak-anak sejak usia dini sudah dikenalkan dengan musik seperti piano, biola, dan lainnya,” katanya.

Ia juga menyoroti masih terbatasnya jumlah guru seni, baik seni musik, seni rupa, karawitan, maupun seni tradisional di tingkat SMP. Karena itu, penguatan kapasitas guru dinilai penting agar pembelajaran seni dapat berjalan maksimal.

“Kita ingin keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan. Kalau otak kiri sudah banyak diasah lewat matematika dan IPA, maka seni menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas dan kepekaan,” ujarnya.

Kepler berharap materi yang diberikan selama pelatihan, mulai dari teori musik, musik anak, hingga teknik dasar seperti dirigen, dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar meskipun sebagian peserta tidak berlatar belakang pendidikan formal musik.

“Meski banyak guru bukan dari akademi musik, mudah-mudahan ilmu selama tiga hari ini bisa diterapkan dan memberi dampak positif di sekolah masing-masing,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *