KOTA TASIK (CM) – Siapa sangka sebuah usaha kuliner yang berada di tengah permukiman padat penduduk mampu menarik pengunjung dari berbagai daerah di Jawa Barat. Fenomena itu kini terjadi di Kampung Depok 2, Kelurahan Sukahurip, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya.
Setiap akhir pekan, kawasan yang biasanya tenang berubah menjadi ramai. Ratusan sepeda motor memenuhi area parkir, sementara pengunjung silih berganti datang untuk mencicipi menu yang tengah viral di media sosial, yakni Citul atau Aci Tulang milik Teh Vera.
Pengunjung tidak hanya berasal dari Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Banyak pula yang datang dari Garut, Ciamis, Banjar, Pangandaran hingga Bandung demi mencicipi kuliner yang belakangan ramai diperbincangkan di berbagai platform digital.
Di balik kesuksesan tersebut terdapat sosok Devi Verawaty (38), yang lebih dikenal dengan sapaan Teh Vera. Bersama sang suami, Terry Gunawan, ia berhasil mengembangkan usaha kuliner sederhana hingga menjadi salah satu tujuan wisata kuliner yang ramai dikunjungi.
Namun keberhasilan yang diraih tidak hanya berdampak pada peningkatan usaha keluarga. Kehadiran Citul Teh Vera juga membawa perubahan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Ketua RW 08 Kelurahan Sukahurip, Rahmat ST, mengatakan berkembangnya usaha tersebut turut membuka peluang kerja bagi warga di lingkungan sekitar.
Menurutnya, banyak warga yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan kini dapat memperoleh penghasilan melalui berbagai aktivitas yang berkaitan dengan operasional usaha kuliner tersebut.
“Keberadaan Citul Teh Vera sangat membantu meningkatkan kesejahteraan warga. Yang paling terlihat adalah banyak warga yang sebelumnya menganggur kini bisa bekerja di sini,” kata Rahmat saat ditemui di lokasi, Minggu (21/6/2026).
Ia menjelaskan tenaga kerja yang terserap tidak hanya bertugas di bagian produksi makanan. Sejumlah warga juga bekerja di bidang pelayanan pelanggan, kebersihan, administrasi hingga pengelolaan parkir.
Kondisi tersebut menciptakan perputaran ekonomi baru di lingkungan kampung yang sebelumnya relatif sepi aktivitas usaha.
“Kalau dulu kampung ini relatif sepi, sekarang hampir setiap hari ramai. Banyak warga yang merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Selain dikenal sukses dalam berbisnis, Rahmat menilai Teh Vera juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap masyarakat sekitar. Berbagai kegiatan kemasyarakatan maupun keagamaan kerap mendapat dukungan dari pemilik usaha tersebut.
“Jiwa sosial dan kedermawanan Teh Vera sangat dirasakan warga. Banyak kegiatan sosial maupun keagamaan yang mendapat dukungan. Itu yang membuat keberadaan usaha ini membawa keberkahan bagi kampung,” katanya.
Perjalanan Citul Teh Vera hingga mencapai titik sekarang tidak berlangsung instan. Sebelum dikenal luas seperti saat ini, Verawaty dan suaminya memulai usaha dari sebuah gerobak sederhana yang mangkal di kawasan Jalan Rumah Sakit Umum, tepatnya di depan SMAN 1 Kota Tasikmalaya.
Kala itu pelanggan mereka didominasi para pelajar yang membeli jajanan berbahan dasar aci saat jam istirahat sekolah. Perlahan usaha tersebut berkembang hingga mampu menghasilkan omzet sekitar Rp500 ribu per hari.
Namun situasi berubah ketika pandemi Covid-19 melanda. Pembatasan aktivitas masyarakat membuat pendapatan usaha menurun drastis.
“Waktu itu sangat berat. Kadang dagangan masih banyak yang tersisa,” kenang Verawaty.
Dalam kondisi sulit tersebut, banyak pelaku usaha kecil memilih menghentikan aktivitas usahanya. Berbeda dengan yang lain, Teh Vera justru mengambil langkah yang cukup berani.
Pada Agustus 2024, ia memutuskan memindahkan usaha ke halaman rumahnya sendiri di Kampung Depok 2. Keputusan tersebut sempat dianggap berisiko karena lokasi berada di tengah permukiman dan jauh dari jalan utama.
Akses menuju lokasi hanya melalui gang sempit yang tidak terlalu lebar. Secara bisnis, tempat tersebut dianggap kurang strategis dibanding lokasi sebelumnya.
Namun keputusan itu justru menjadi titik balik perkembangan usaha. Halaman rumah diubah menjadi area produksi sekaligus tempat melayani pelanggan, sementara sebuah bangunan sederhana disiapkan untuk menampung pengunjung.
Awalnya pelanggan yang datang masih didominasi pelanggan lama. Situasi mulai berubah ketika berbagai konten mengenai Citul Teh Vera beredar di media sosial.
Video proses pembuatan aci tulang yang unik dan menggugah selera menarik perhatian warganet. Dalam waktu singkat, unggahan tersebut menyebar luas dan memunculkan rasa penasaran masyarakat.
Gelombang promosi semakin besar ketika sejumlah influencer dan figur publik datang langsung ke lokasi. Kehadiran mereka turut memperluas jangkauan promosi hingga menjadikan Citul Teh Vera dikenal oleh masyarakat dari berbagai daerah.
“Setelah banyak influencer datang, pengunjung semakin ramai,” ujar Verawaty.
Di tengah maraknya tren makanan kekinian, Citul Teh Vera tetap mempertahankan konsep sederhana dengan mengandalkan bahan dasar tepung tapioka atau aci.
Dari bahan tersebut lahir sejumlah menu andalan. Dua yang paling diminati adalah Citul atau Aci Tulang dan Mitul atau Mie Tulang.
Perpaduan tekstur kenyal khas aci dengan kuah tulang yang gurih menjadi daya tarik utama. Selain cita rasa, harga yang terjangkau juga menjadi alasan banyak pelanggan terus datang.
Beberapa menu bahkan masih dapat dinikmati mulai dari Rp6.000 per porsi, sehingga cukup ramah bagi kalangan pelajar dan mahasiswa.
Lokasi usaha yang berada di sekitar kawasan pendidikan turut menjadi faktor pendukung. Setiap hari, ribuan pelajar dan mahasiswa beraktivitas di sekitar wilayah tersebut dan menjadi pasar potensial bagi usaha kuliner itu.
Meningkatnya jumlah pelanggan membuat kapasitas tempat semula tidak lagi mampu menampung pengunjung. Antrean panjang terutama pada akhir pekan menjadi pemandangan yang kerap terjadi.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Verawaty memperluas area usaha dengan membeli rumah yang berada di sebelah lokasi. Bangunan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai tambahan ruang bagi pelanggan.
Perkembangan itu menjadi bukti perjalanan panjang usaha yang bermula dari gerobak sederhana hingga berkembang menjadi destinasi kuliner yang ramai dikunjungi setiap hari.
Lebih dari sekadar tempat makan, Citul Teh Vera kini menjadi contoh bagaimana sebuah usaha mikro mampu tumbuh besar dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya. Kehadirannya tidak hanya mengangkat nama sebuah produk kuliner, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian di lingkungan tempat usaha itu berdiri.





