News

Semangat Kartini Masa Kini, Guru SLB di Tasikmalaya yang Tetap Mengabdi Meski Sudah Pensiun

34
×

Semangat Kartini Masa Kini, Guru SLB di Tasikmalaya yang Tetap Mengabdi Meski Sudah Pensiun

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Aktivitas di SLB Insan Sejahtera, Cieunteung, Kota Tasikmalaya, tampak berjalan seperti biasa. Sejumlah siswa berkebutuhan khusus belajar menjalani aktivitas harian, mulai dari merapikan meja hingga menyusun bahan makanan.

Di tengah kegiatan itu, sosok Iyan Yuliantini terlihat tetap aktif mendampingi para siswa. Meski usianya telah menginjak 60 tahun, gerakannya masih lincah, dengan senyum yang terus menyapa anak-anak di sekitarnya.

Padahal, Iyan sudah resmi pensiun sebagai guru PNS sejak 2025 dari SLB Negeri Tamansari. Namun, ia memilih tetap mengabdikan diri di dunia pendidikan disabilitas.

“Secara kedinasan saya sudah pensiun, tapi saya masih aktif membantu mengajar. Bagi saya, anak-anak itu jadi penyemangat,” ujar Iyan, Selasa 21 April 2026.

Dedikasinya di dunia pendidikan luar biasa telah berlangsung lebih dari empat dekade. Sejak muda, ia memilih mendampingi anak-anak penyandang disabilitas, di saat perhatian terhadap mereka masih sangat terbatas.

Menurut Iyan, peran guru SLB tidak hanya mengajar secara akademik. Lebih dari itu, mereka juga melatih kemandirian siswa dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami ajarkan hal sederhana seperti merawat diri, berinteraksi, sampai mandiri tanpa bergantung pada orang lain,” katanya.

Ia menyebut jumlah penyandang disabilitas di Kota Tasikmalaya cukup besar, mencapai ratusan siswa dan ribuan jika termasuk orang dewasa. Hal itu menjadi alasan ia tetap aktif meski sudah pensiun.

Kini, Iyan juga terlibat dalam Paguyuban Pegiat Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas). Melalui komunitas tersebut, ia bersama rekan-rekannya mendorong berbagai program pemberdayaan, termasuk pelatihan kerja bagi penyandang disabilitas.

Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah produksi telur asin. Program ini tidak hanya bertujuan ekonomi, tetapi juga melatih kedisiplinan, kebersihan, serta tanggung jawab peserta.

“Yang paling penting bukan sekadar hasil jualannya, tapi rasa percaya diri mereka bahwa bisa berkarya,” ujarnya.

Selain itu, Iyan juga membantu menyalurkan lulusan SLB ke dunia kerja. Beberapa di antaranya kini bekerja di sektor kuliner, seperti dapur produksi hingga kafe.

Menurutnya, penyandang disabilitas memiliki keunggulan dalam hal ketelitian dan kedisiplinan jika diberi kesempatan.

Di momen Hari Kartini, Iyan memaknai perjuangan perempuan sebagai kesempatan untuk terus berkontribusi tanpa batas, termasuk dalam memperjuangkan hak kelompok rentan.

“Sekarang perempuan punya ruang lebih luas untuk berkarya. Tapi kita juga harus terus memperjuangkan mereka yang masih tersisih,” katanya.

Bagi Iyan, pengabdian tidak berhenti saat masa pensiun tiba. Ia memilih tetap berada di tengah anak-anak yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *