News

Kemenag Kota Tasikmalaya Ajak Warga Verifikasi Arah Kiblat Lewat Fenomena Rashdul Qiblat

59
×

Kemenag Kota Tasikmalaya Ajak Warga Verifikasi Arah Kiblat Lewat Fenomena Rashdul Qiblat

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tasikmalaya terus menggencarkan sosialisasi dan bimbingan teknis Program Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat sebagai upaya meningkatkan akurasi arah kiblat masjid, musala, sekolah, rumah, hingga berbagai fasilitas publik.

Program tersebut memanfaatkan fenomena astronomi Rashdul Qiblat, saat Matahari berada tepat di atas Ka’bah sehingga bayangan benda tegak lurus dapat menjadi penunjuk arah kiblat yang sangat akurat.

Tim Humas Kantor Kemenag Kota Tasikmalaya, Nandang Saepulloh, S.Pd.I, mengatakan Gerakan Indonesia Berkiblat merupakan ajakan kepada seluruh umat Islam untuk melakukan verifikasi arah kiblat menggunakan metode ilmiah yang sederhana, mudah dipraktikkan, dan memiliki tingkat akurasi tinggi.

“Kantor Kemenag Kota Tasikmalaya mengajak masyarakat memanfaatkan Rashdul Qiblat untuk memastikan arah kiblat secara ilmiah, serentak, dan akurat,” ujar Nandang usai Sosialisasi dan simulasi penentuan arah kiblat di Masjid Al Wasilah, RW 01 Cintarasa, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (8/7/2026).

Menurut dia, sosialisasi tidak hanya menyasar pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), tetapi juga seluruh lapisan masyarakat, termasuk keluarga yang sehari-hari melaksanakan ibadah salat di rumah.

“Ya, kita terus melakukan sosialisasi, tidak hanya kepada DKM tetapi kepada seluruh warga, termasuk kepada para ibu yang sebagian melaksanakan ibadah salatnya di rumah,” katanya.

Bimbingan Teknis hingga Pengamatan Nasional
Nandang menjelaskan, Kemenag Kota Tasikmalaya saat ini terus memberikan bimbingan teknis mengenai penggunaan alat sederhana berupa tongkat atau lot pembayang sebagai media penentuan arah kiblat.

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya penyamaan standar waktu nasional agar pengamatan dilakukan tepat pada saat fenomena Rashdul Qiblat berlangsung.

Puncak kegiatan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat menurut Nandang dijadwalkan akan berlangsung secara serentak pada 15 dan 16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA, bertepatan dengan posisi Matahari tepat berada di atas Ka’bah di Mekkah.

Pada waktu tersebut, bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan mengarah tepat ke arah kiblat sehingga masyarakat dapat melakukan pengecekan tanpa memerlukan alat ukur khusus maupun aplikasi digital.

“Di Jawa Barat sendiri, kata Nandang, Kementerian Agama menargetkan lebih dari satu juta titik verifikasi arah kiblat. Sementara di Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, diperkirakan terdapat sekitar 200 hingga 500 titik yang menjadi sasaran.”terangnya.

Fenomena Rashdul Qiblat merupakan peristiwa astronomi yang telah lama dikenal dalam tradisi ilmu falak. Ketika Matahari berada tepat di atas Ka’bah, setiap benda yang berdiri tegak akan menghasilkan bayangan yang menunjukkan arah kiblat secara presisi.

Dalam simulasi yang dilakukan, peserta diperlihatkan bagaimana sebuah tongkat ditancapkan tegak lurus di atas permukaan datar. Ketika waktu Rashdul Qiblat tiba, arah bayangan tongkat kemudian ditandai.

Garis yang ditarik dari ujung bayangan menuju pangkal tongkat menjadi arah kiblat yang benar menurut kaidah ilmu falak.

Melalui metode tersebut, masyarakat tidak memerlukan peralatan mahal ataupun keahlian teknis yang rumit. Cukup memastikan tongkat benar-benar tegak, permukaan datar, dan waktu telah sesuai dengan standar nasional.

“Melalui Gerakan 1.448.000 Verifikasi Arah Kiblat Nasional kami ingin mengajak masyarakat memastikan arah kiblat secara mudah dan akurat dengan memanfaatkan fenomena alam yang telah lama dikenal dalam tradisi ilmu falak,” ujar Nandang.

Menurut Nandang, program tersebut tidak hanya bertujuan melakukan koreksi arah kiblat, tetapi juga menjadi media edukasi publik mengenai pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam pelayanan keagamaan.

Ia menjelaskan arah kiblat memiliki makna yang sangat penting sebagai simbol persatuan umat Islam yang menghadap satu titik yang sama, yakni Ka’bah.

Karena itu, pemanfaatan fenomena astronomi dinilai menjadi bentuk integrasi antara ilmu pengetahuan modern dengan praktik ibadah yang telah lama berkembang dalam khazanah ilmu falak Islam.

“Fenomena ini akan terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026 sekitar pukul 16.27 WIB. Masyarakat cukup menyiapkan benda yang berdiri tegak lurus, kemudian mengamati arah bayangannya pada waktu tersebut untuk mengetahui arah kiblat,” jelasnya.

Usai pelaksanaan verifikasi, peserta juga diminta mengunggah dokumentasi hasil pengamatan melalui Portal Indonesia Berkiblat untuk memperoleh sertifikat digital resmi sebagai bentuk partisipasi dalam gerakan nasional tersebut.

Portal tersebut juga menyediakan panduan teknis mulai dari persiapan alat, penyamaan waktu, hingga cara membaca arah bayangan sesuai kaidah ilmu falak.

Ketua DKM Al Wasilah, Endang Roslana, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Gerakan Indonesia Berkiblat yang dinilai memberikan manfaat besar bagi masyarakat.

Menurutnya, memastikan arah kiblat bukan sekadar pekerjaan teknis, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kualitas pelaksanaan ibadah umat Islam.

Ia berharap momentum Rashdul Qiblat dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat sekaligus meningkatkan minat generasi muda terhadap kajian ilmu falak sebagai salah satu warisan keilmuan Islam yang masih sangat relevan hingga saat ini.

Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena proses verifikasi dapat dilakukan secara mandiri tanpa biaya besar.

Masyarakat hanya memerlukan tongkat atau benda yang benar-benar tegak, permukaan yang datar, serta acuan waktu yang tepat.

Metode sederhana tersebut dapat diterapkan untuk memastikan arah salat di rumah, musala lingkungan, sekolah, pondok pesantren, hingga masjid yang belum pernah diverifikasi secara ilmiah.

Dengan melibatkan target 1.448.000 titik verifikasi arah kiblat di seluruh Indonesia, program ini diharapkan mampu meningkatkan akurasi arah kiblat sekaligus menghidupkan kembali literasi ilmu falak di tengah masyarakat.

Melalui kolaborasi antara fenomena astronomi dan pelayanan keagamaan, Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat menjadi contoh bagaimana sains dapat memberikan manfaat langsung bagi kehidupan beragama serta memperkuat kualitas ibadah umat Islam di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *