CIANJUR (CM) – Keterbatasan akses geografis tak menyurutkan langkah Persatuan Kakitangan Islamic Malayan Banking (PKIMB) bersama Yayasan Amirul Ummah (YAU) untuk memperluas akses pendidikan Al-Qur’an. Sebanyak 766 naskah Al-Qur’an disalurkan kepada santri dan jamaah di Kabupaten Cianjur dan Garut, Jawa Barat, pada 23-24 Oktober 2026.
Bantuan tersebut menyasar sejumlah lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren yang membina santri tunanetra. Dari total bantuan, sebanyak 13 Al-Qur’an Braille diberikan kepada santri di Pesantren Tunanetra Shofiyah, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur. Sementara 753 mushaf reguler didistribusikan ke sejumlah lembaga pendidikan dan masyarakat di Kabupaten Garut.
Program yang memasuki tahun keempat kolaborasi sejak 2024 ini juga disertai santunan sebesar RM3.300 dan bingkisan senilai RM300. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi santri, jamaah, serta tenaga pengajar.
Penyaluran bantuan di Cianjur menjadi salah satu perhatian utama dalam kegiatan tersebut. Sebanyak 13 Al-Qur’an Braille diserahkan kepada para santri Pesantren Tunanetra Shofiyah pada 23 Oktober 2026.
Bagi santri dengan keterbatasan penglihatan, keberadaan mushaf Braille menjadi sarana penting untuk mempelajari Al-Qur’an secara mandiri. Bantuan itu diharapkan memperkuat proses pembelajaran agama sekaligus membuka kesempatan yang lebih luas bagi mereka untuk mendalami kitab suci.
Selain Al-Qur’an, PKIMB dan Yayasan Amirul Ummah memberikan santunan kepada 13 santri dan empat tenaga pengajar.
Ustaz Abu Huzaifah menyambut baik bantuan tersebut. Ia mengapresiasi perhatian dan kunjungan kedua lembaga yang telah membawa amanah bagi para santri.
“Terima kasih telah bersilaturahmi dan berkunjung ke pondok kami, serta membawa amanah Al-Qur’an untuk dibagikan kepada santri-santri kami. Jazakumullahu khairan katsiran. Semoga menjadi manfaat dan menjadi amal jariyah kebaikan,” ujarnya pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Menembus Akses Sulit di Cisewu
Tantangan berbeda dihadapi tim saat menyalurkan bantuan ke Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Sebanyak 400 mushaf disiapkan untuk dua lembaga pendidikan Islam, yakni MDT Nurul Huda di Kampung Cukur dan MDT Al-Ihsan di Kampung Koropas.
Namun, kondisi jalan menjadi kendala dalam perjalanan menuju lokasi. Tim harus melewati jalur sempit dan berbatu. Hujan yang mengguyur kawasan tersebut membuat jalan semakin licin dan berlumpur.
Kendaraan yang digunakan tim bahkan mengalami kesulitan saat melintasi kawasan Kampung Datar Dahu. Akibatnya, perjalanan tidak dapat diteruskan hingga lokasi penerima manfaat.
Tim kemudian mengambil langkah alternatif. Sebanyak 400 mushaf beserta santunan dititipkan kepada Ustaz Saeful untuk diteruskan kepada para santri dan tenaga pengajar di kedua lembaga tersebut.
Ustaz Saeful menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan. Menurut dia, mushaf tersebut sangat berarti bagi para santri, terutama karena lembaga pendidikan di wilayah itu berada di kawasan dengan akses yang cukup sulit.
Ia berharap tim PKIMB dan Yayasan Amirul Ummah dapat kembali berkunjung apabila kondisi jalan memungkinkan.
353 Mushaf untuk Banjarwangi
Penyaluran bantuan berlanjut pada 24 Oktober 2026 di Masjid Al-Ikhlas, Kampung Cikembar, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut.
Sebanyak 353 mushaf diserahkan kepada santri dan jamaah setempat setelah waktu Zuhur. Kegiatan tersebut juga disertai santunan bagi sekitar 300 santri dan jamaah serta 12 tenaga pengajar.
Dengan tambahan bantuan di Banjarwangi, total mushaf yang disalurkan di Kabupaten Garut mencapai 753 eksemplar. Jika digabungkan dengan 13 Al-Qur’an Braille di Cianjur, jumlah keseluruhan bantuan mencapai 766 naskah.
Bukan Sekadar Jumlah Mushaf
Ketua Program Yayasan Amirul Ummah, Ilham Fadilah Mushipa, mengatakan keberhasilan program sosial tidak semata-mata diukur dari jumlah bantuan yang disalurkan. Menurut dia, hal terpenting adalah memastikan bantuan menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Saat dihubungi wartawan melalui telepon selulernya pada Sabtu, 31 Oktober 2026, Ilham mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap Al-Qur’an, termasuk santri tunanetra dan lembaga pendidikan Islam di daerah terpencil.
“Bagi kami, penyaluran Al-Qur’an ini bukan hanya tentang jumlah mushaf yang bisa dibagikan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana amanah tersebut dapat menjangkau saudara-saudara kita yang membutuhkan. Termasuk santri tunanetra yang memerlukan Al-Qur’an Braille serta para santri di daerah yang aksesnya cukup sulit dijangkau,” kata Ilham.
Ia mengatakan setiap wilayah penerima memiliki kebutuhan dan karakteristik berbeda. Karena itu, pelaksanaan program harus mempertimbangkan kondisi masyarakat dan tantangan yang dihadapi di lapangan.
Ilham berharap mushaf yang telah disalurkan benar-benar digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan agama.
“Kami berharap mushaf yang disalurkan tidak hanya diterima, tetapi benar-benar dimanfaatkan. Dibaca oleh para santri, dipelajari bersama para pengajar, dan menjadi bagian dari kegiatan pendidikan Al-Qur’an sehari-hari,” ujarnya.
Pengalaman perjalanan menuju Cisewu, kata Ilham, menjadi gambaran nyata tantangan dalam menjangkau lembaga pendidikan di pelosok daerah.
Meski kendaraan tim tidak dapat mencapai lokasi, ia memastikan bantuan tetap disampaikan melalui perantara yang dipercaya.
“Dalam perjalanan menuju Cisewu, tim memang menghadapi kendala karena kondisi jalan yang sempit, berbatu, dan berlumpur setelah hujan. Kendaraan tidak bisa melanjutkan perjalanan sampai ke lokasi. Namun, kami berusaha agar amanah tetap tersampaikan dengan menitipkan bantuan kepada pihak yang dapat meneruskannya kepada para penerima manfaat,” jelasnya.
Ia berharap kunjungan berikutnya dapat dilakukan secara langsung agar tim bisa melihat kondisi para santri sekaligus mempererat hubungan dengan penerima bantuan.
Kolaborasi Indonesia-Malaysia Sejak 2024
Kerja sama PKIMB dan Yayasan Amirul Ummah dalam program penyaluran Al-Qur’an dan santunan telah memasuki kolaborasi keempat sejak 2024.
Bagi kedua lembaga, keberlanjutan program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian sosial dan pendidikan keagamaan lintas negara.
Ilham mengapresiasi kepercayaan PKIMB yang terus memberikan dukungan terhadap kegiatan Yayasan Amirul Ummah. Ia berharap kemitraan tersebut dapat dipertahankan dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas kepercayaan PKIMB yang terus terjalin sejak 2024. Ini menjadi amanah sekaligus motivasi bagi kami untuk terus menjalankan program-program kebaikan. Kami berharap kerja sama ini dapat terus dipertahankan dan semakin berkembang sehingga lebih banyak masyarakat yang memperoleh manfaat,” tuturnya.
Ia menilai kepedulian terhadap pendidikan Al-Qur’an dapat menjadi jembatan untuk mempererat persaudaraan umat Islam di Indonesia dan Malaysia.
“Harapan kami, kolaborasi ini bukan hanya menjadi hubungan kerja sama antara dua lembaga, tetapi juga menjadi jembatan persaudaraan. Ketika kita bisa saling membantu dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat, itulah salah satu bentuk kepedulian yang perlu terus dijaga,” katanya.
Selain 766 naskah Al-Qur’an, program ini menyalurkan santunan senilai RM3.300 dan bingkisan RM300. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung aktivitas pendidikan sekaligus memberikan semangat kepada santri, jamaah, dan tenaga pengajar.
Ilham berharap seluruh bantuan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Setiap bantuan tentu memiliki harapan agar bisa memberikan manfaat. Kami ingin para santri semakin bersemangat belajar, para jamaah semakin dekat dengan Al-Qur’an, dan para tenaga pengajar terus diberikan kekuatan dalam mendidik. Semoga apa yang diberikan ini menjadi kebaikan bagi semua pihak,” ujarnya.
Melalui kolaborasi tersebut, PKIMB dan Yayasan Amirul Ummah berupaya memastikan akses terhadap Al-Qur’an tidak terhalang keterbatasan geografis maupun kondisi penerima manfaat.
Bagi kedua lembaga, nilai program bukan hanya terletak pada jumlah mushaf yang dibagikan, tetapi juga pada keberlanjutan manfaatnya bagi pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat.





