News

Aksi Nyata Hari Bumi di Kota Tasikmalaya, Sungai Dibersihkan hingga Swasta Diganjar Apresiasi

60
×

Aksi Nyata Hari Bumi di Kota Tasikmalaya, Sungai Dibersihkan hingga Swasta Diganjar Apresiasi

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Peringatan Hari Bumi di Kota Tasikmalaya diwarnai aksi langsung warga yang turun membersihkan aliran sungai di kawasan Cintarasa, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi simbol kepedulian lingkungan, tetapi juga momentum kolaborasi lintas sektor.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kota Tasikmalaya memberikan penghargaan kepada pihak swasta yang dinilai turut berkontribusi terhadap gerakan lingkungan. Salah satunya adalah McDonald’s Tasikmalaya yang menerima piagam apresiasi dalam kegiatan bertajuk Ngaruat Lembur Cintarasa.

Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Asisten Daerah (Asda) II kepada perwakilan manajemen McD. Apresiasi ini dinilai sebagai bentuk pengakuan atas peran dunia usaha dalam mendukung peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.

Sementara itu, di lokasi yang sama, warga RW 1 Cintarasa tampak berjibaku membersihkan sungai kecil yang selama ini kerap menjadi sumber genangan.

Dengan alat sederhana, mereka mengangkat sampah, mengeruk sedimentasi, hingga membuka aliran air yang tersumbat.

Ketua RW 1 Cintarasa, Harniwan Obech, menyebut persoalan banjir akibat saluran tersumbat bukan hal baru bagi warga. Bahkan, kondisi tersebut sempat meluas hingga ke beberapa wilayah sekitar.

“Masalah ini sudah lama terjadi. Kami berharap ada solusi yang lebih konkret, bukan hanya kegiatan sesaat,” kata Harniwan.

Genangan air memang menjadi persoalan rutin saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Warga kerap diliputi kekhawatiran karena air dengan cepat meluap ke permukiman.

Data dari BPBD Kota Tasikmalaya mencatat wilayah ini termasuk kawasan rawan genangan. Dalam beberapa pekan terakhir, kejadian serupa kembali terulang, menunjukkan masalah yang terjadi bersifat berulang.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya, Hanafi, menjelaskan bahwa genangan tidak semata-mata disebabkan oleh kerusakan saluran air. Menurutnya, kapasitas drainase kerap tidak mampu menampung debit air tinggi, apalagi jika tersumbat sampah.

“Saluran di beberapa titik masih berfungsi, tapi saat hujan deras debit air meningkat cepat. Kalau ada sumbatan, air pasti meluap,” jelasnya.

Kondisi di lapangan memperlihatkan aliran sungai yang menyempit akibat endapan tanah dan tumpukan sampah rumah tangga. Berbagai jenis sampah seperti plastik hingga kain tersangkut di bebatuan, menghambat arus air.

Keterlibatan pihak swasta dalam kegiatan ini dinilai memberi dampak positif, terutama dalam mendorong perubahan pola pikir masyarakat. Tidak hanya bantuan fisik, tetapi juga membangun kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.

Aksi bersih-bersih sungai ini menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak lepas dari kebiasaan sehari-hari. Sampah yang dibuang sembarangan pada akhirnya kembali menjadi ancaman bagi warga sendiri.

Kegiatan Ngaruat Lembur Cintarasa pun menjadi refleksi bahwa penanganan masalah lingkungan tidak cukup mengandalkan pembangunan infrastruktur. Dibutuhkan kesadaran bersama agar perubahan bisa terjadi secara konsisten.

Di tengah ironi peringatan Hari Bumi, kondisi sungai yang dipenuhi sampah masih menjadi kenyataan. Namun di Tasikmalaya, langkah kecil yang dilakukan bersama ini menjadi harapan baru menuju lingkungan yang lebih bersih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *