Khazanah

Merawat Harapan dari Mushaf hingga Sepiring Nasi: Jejak Sunyi Yayasan Sarana Berbagi

60
×

Merawat Harapan dari Mushaf hingga Sepiring Nasi: Jejak Sunyi Yayasan Sarana Berbagi

Sebarkan artikel ini
Jejak Sunyi Yayasan Sarana Berbagi

BANDUNG (CM) – Di ruang kelas sederhana, anak-anak duduk bersila sambil memeluk mushaf baru. Aroma kertas Al-Qur’an yang masih segar bercampur dengan senyum polos para santri. Di sanalah Yayasan Sarana Berbagi bekerja—tenang, konsisten, dan penuh makna.

Sejak berdiri pada 2016, Sarana Berbagi menjadikan pendidikan Al-Qur’an sebagai pintu masuk utama membangun karakter generasi. Program Berbagi Al-Qur’an menyasar sekolah Islam, madrasah, panti asuhan, hingga pesantren yang selama ini harus berbagi mushaf karena keterbatasan.

Di SIT Qordova Rancaekek, mushaf-mushaf baru menggantikan kitab lama yang telah usang. Di DTA Darul Hikam, bantuan mushaf datang bersamaan dengan 150 box makanan untuk santri. Bagi mereka, bantuan bukan sekadar angka, melainkan napas baru dalam belajar.

Pembina Yayasan Sarana Berbagi, DR (C) Erni Furwanti, M.Pd, meyakini bahwa Al-Qur’an adalah fondasi peradaban.
“Kami ingin anak-anak belajar dengan layak, bermartabat, dan penuh semangat. Mushaf yang baik adalah awal dari proses pendidikan yang baik,” katanya.

Kolaborasi menjadi kekuatan utama Sarana Berbagi. Bersama mahasiswa DEMA FEBI UIN Bandung, yayasan ini menyambangi Panti Asuhan Hikmatun Ayat, membawa mushaf dan harapan baru bagi anak-anak yatim. Kehadiran mahasiswa bukan hanya simbol kepedulian, tetapi teladan empati.

Di Garut, mahasiswa KKN UIN Bandung turut menyalurkan mushaf ke Madrasah Nurul Ulum. Daerah pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk kota menjadi saksi bahwa kepedulian tidak mengenal jarak.

Namun Sarana Berbagi tidak berhenti pada mushaf. Ketika keluarga pasien kanker berjuang antara harapan dan kelelahan, Program Berdaya Beras hadir menjaga kebutuhan paling dasar: pangan. Sepuluh kilogram beras mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi mereka, itu adalah ketenangan.

Ramadhan pun menjadi ruang berbagi yang hangat. Di Panti Asuhan Insan Kamil Arcamanik, takjil dibagikan bukan hanya untuk berbuka, tetapi untuk merayakan kebersamaan dan rasa dimiliki.

Di sisi lain, Masjid Palopor yang kini bernama Masjid Annaba berdiri lebih kokoh. Renovasi menjadikannya pusat ibadah dan pertemuan warga, simbol bahwa peradaban dibangun dari ruang-ruang spiritual.

“Kami percaya, kebaikan yang dikelola dengan niat dan tata kelola yang baik akan berumur panjang,” ujar Erni.
Yayasan Sarana Berbagi hadir bukan sebagai pahlawan, melainkan sahabat. Dalam senyap, mereka menanam nilai, menyiram harapan, dan membiarkan kebaikan tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *