News

Kota Bandung Miliki Tempat Keberagaman Budaya

172
×

Kota Bandung Miliki Tempat Keberagaman Budaya

Sebarkan artikel ini
Kota Bandung Miliki Tempat Keberagaman Budaya

BANDUNG, (CAMEON) – Kota Bandung belum terlalu tua untuk sebuah kota. Warga Kota Bandung boleh berbesar hati memiliki tempat-tempat yang turut membentuk sejarah keberagaman budaya, seperti di sekitar Jalan Astana Anyar, Cibadak, Klenteng, Waringin dan Kebon Jati. Lebih jauh lagi bisa sampai Jalan Pecinan Lama dan Braga.

Hal ini sekaligus menghayati kembali semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari. Bermula pada niatan Daedles yang singgah dalam perintisan Jalan Raya Pos di awal Abad XIX. Akhirnya, kota tersebut dibuka sebagai pemukiman di 1810. Pemukiman tersebut menjadi Gemeente terpisah dari wilayah Bupati Bandung pada 1906.

Budayawan Kota Bandung Wawan Gunawan, saat itu Bandung memang disulap dari seonggok lembang datar hasil lava letusan Tangkuban Parahu yang membendung Sungai Citarum. ”Lahan pemukiman tersebut akhirnya diisi oleh banyak penduduk sekitar hingga pendatang,” ungkap Wawan ditemui di sela-sela kesibukannya, belum lama ini.

Awalnya hanya warga Kabupaten Bandung dan warga Belanda yang bermukim. Tapi, tak butuh lama untuk warga etnis Jawa, India, Tionghoa dan lain sebagainya. Kedatangan para etnis tersebut, berambisi untuk membuat Parisnya Jawa.

Akan tetapi, kedatangannya termasuk telat. Tidak seperti kebanyakan kota besar di Indonesia yang membentuk semacam wilayah ordinasi. Membentuk sebuah kampung Arab, Kampung Pecinan, Kampung Keling dan sebagainya. Di Bandung, pengaturan seperti itu tidak sempat membudidaya.

”Pembentukan itu keburu penduduk Jepang dan masa revolusi kemerdekaan yang sempat membumihanguskan separuh kota,” jelasnya.

Maka hasilnya, bangunan dan wilayah bercampur baur. Begitu pula dengan budaya yang ada. Jalur tersebut bisa disebut sebagai Jalur Bhineka. Serta, jalur itu sebagai titik pemukiman Tionghoa. Lalu, di tengah kota menjadi titik kumpul warga Eropa. Terbukti, terdapat sejumlah Klenteng dan Vihara.

Bahkan, kini ada ketiga agama Tri-Dharma (Buddhisme, Tao dan Kong Hu Cu) bisa menunjukan wujud bangun ibadahnya. Kemudian warga Tionghoa yang menganut Kristiani terdapat Gereja Katolik dan Protestan. Lalu, Peristiwa Bandung Lautan Api dan kemudian Long March Siliwangi membuat pembauran lebih terjadi. Warga etnis Tionghoa menyebar ke beberapa titik lain, sementara jalur ini semakin ramai.

Walhasil sekarang banyak sejumlah tempat ibadah, seperti masjid yang lumayan tua, klenteng Tridharma, Vihara, Tao Kwan, Kung Miao, Pondok Pesantren, Gereja, sampai tempat ibadah rekan-rekan dari Gerakan Kesadaran Khrisna (sering disebut Hare-Khrisna) dan tempat pertemuan rekan-rekan Buddhis NSI.

”Berdampingan dengan pemukiman dan pasar tradisional. Bangunan-bangunan bergaya Eropa late-nineteen dan kini dengan sejumlah bangunan modern, khas kreatif Kota Bandung,” pungkasnya.

Berikut jalur Bhineka di Kota Bandung: (1).  Hare Krisna Jalan Vihara Bandung berdiri sejak 2002 (2).  Vihara Tanda Bakti Jalan Vihara No. 3 Bandung berdiri dari tahun 1979 (3). Vihara Darma Ramsi Jalan Cibadak No 18/9A berdiri sejak 1952 (4). Kong Miao Jalan Sudirman Bandung berdiri sejak 1885 (5).  Tao Kwan Jalan Otto Iskandar Bandung berdiri sejak 2002 (6).  Masjid An- Nashir Jalan Astana Anyar Bandung berdiri sejak 1948 (7). Paroki St Mikael Jalan Waringin Bandung berdiri sejak 1920 (8). GKI Kebonjati Jalan Kebonjati No. 100 Bandung berdiri sejak 1924. (Putri)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *