NewsTasikmalaya

Hari Air Sedunia, Tantangan dan Langkah-langkah Menuju Kelestarian

144
×

Hari Air Sedunia, Tantangan dan Langkah-langkah Menuju Kelestarian

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Hari ini, dunia kembali memperingati Hari Air Sedunia, sebuah momen yang tidak hanya menjadi seremoni rutin, tetapi juga pengingat akan pentingnya sumber daya alam yang vital bagi kehidupan manusia. Namun, di Kota Tasikmalaya, keberadaan air tidak lagi dianggap sepele. Ancaman terhadap kualitas air semakin nyata, memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekosistem dan perekonomian lokal.

Menurut data dari pegiat lingkungan Republik Aer Harniwan Obech, kualitas air di Kota Tasikmalaya semakin memburuk, terutama disebabkan oleh pencemaran sampah plastik yang terus dibuang ke sungai-sungai. Hasil penelitian beberapa ahli juga menyoroti penurunan kualitas air yang mengkhawatirkan.

“Kualitas air semakin hari semakin memburuk, perlu kesadaran dari kita semua untuk dapat mengembalikan kualitas air yang lebih baik, jadi terus mengalami penurunan yang mengkhawatirkan akibat pencemaran terutama dari sampah plastik,” ungkap Harniwan Obech.

Dalam menghadapi tantangan ini menurutnya, langkah-langkah konservasi menjadi hal yang sangat penting. Perubahan perilaku sehari-hari dapat menjadi langkah awal yang efektif dalam mengurangi pemborosan air. Memperbaiki kebocoran, mengurangi waktu mandi, dan mematikan keran saat tidak digunakan adalah tindakan sederhana namun berdampak besar jika dilakukan secara kolektif oleh masyarakat.

Namun, selain upaya perubahan perilaku, solusi berbasis teknologi dan kebijakan juga diperlukan. Investasi dalam infrastruktur air yang efisien, penggunaan sumber daya air alternatif, dan pengelolaan air yang lebih baik menjadi langkah strategis dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Harniwan juga menyoroti dimana faktor pendidikan juga memainkan peran penting dalam pelestarian air. Dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya air, diharapkan tindakan positif dan partisipasi dalam upaya konservasi air dapat terus meningkat.

Tidak kalah pentingnya adalah peran pemerintah dalam menerapkan kebijakan yang berkelanjutan. Regulasi mengenai penggunaan plastik sekali pakai harus dievaluasi secara berkala dan dipantau pelaksanaannya. Kebijakan yang berkelanjutan diharapkan mampu mengurangi polusi air dan menjaga kualitasnya.

“Regulasi tentang penanganan sampah plastik yang telah diterbitkan haruslah ditegakkan dengan diikuti oleh kegiatan nyata dengan tidak hanya kegiatan ceremonial belaka,” ujar Koordinator Sanitary Conservation Society, Syahril Asfari, Jumat (22/3/2024).

Peringatan Hari Air Sedunia menurut Syahril harus menekankan bahwa momentum penting untuk merefleksikan pentingnya air dalam kehidupan. Melalui langkah-langkah konservasi yang diambil bersama, seharusnya warga Kota Tasikmalaya dapat menciptakan dunia yang lebih baik dan merawat sumber daya air yang begitu berharga ini.

Baik Harniwan maupun Syahril berharap melalui momentum Hari Air Sedunia, masyarakat Kota Tasikmalaya lebih sadar, apalagi kalau melihat akan fakta bahwa 2,2 miliar orang hidup tanpa akses air bersih. Sehingga, fokus utama Hari Air Sedunia adalah untuk mendukung kesuksesan tujuan pembangunan berkelanjutan.

“Ya Harapannya, air bersih dan sanitasi layak dapat diakses dengan mudah oleh semua orang pada tahun 2030. Tidak ada lagi orang yang kesulitan mendapatkan akses air bersih,” harapnya.

Selaras dengan tema yang diangkat PBB yang menyoroti pentingnya kerja sama air lintas batas, Syahril yang masih menimba ilmu di STIA Tasikmalaya terus mendorong agar setiap pembangunan berkelanjutan selalu diiringi dengan wawasan lingkungan.

“Kerjasama dan koordinasi antar lintas dalam penanganan air sangatlah penting, terlebih, perairan lintas batas menyumbang 60 persen aliran air tawar. Namun, hanya 24 dari 153 negara yang berbagi perairan lintas batas dan tercakup dalam perjanjian kerja sama.” pungkas Syahril.

Dengan adanya peringatan Hari Air Sedunia, dirinya berharap kesadaran akan pentingnya air semakin meningkat, khususnya di Kota Tasikmalaya, dan langkah-langkah konkret dapat diambil untuk melestarikan sumber daya alam yang begitu berharga ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *