Jawa Barat

Cara Unik Menyambut Malam Lailatul Qadar

57
×

Cara Unik Menyambut Malam Lailatul Qadar

Sebarkan artikel ini
Cara Unik Menyambut Malam Lailatul Qadar

BANDUNG, (CAMEON) – Malam Lailatul Qadar sepertinya malam yang selalu dinanti oleh umat muslim di mana pun dia berada. Cara yang tepat menyambut sepuluh malam terakhir Ramadan biasanya dengan beritikaf di masjid. Namun, ada yang sedikit berbeda ketika memasuki salah satu masjid di Bandung, Masjid Habiburrahman PT. Dirgantara Indonesia.

Terdapat sekitar 200 tenda yang biasa dipakai untuk berkemah di pegunungan, kini berada di masjid tersebut. Tenda-tenda itu tentunya berasal dari para jamaah yang memburu malam Lailatul Qadar. Tenda-tenda ini berdiri dalam 10 hari terakhir Ramadan. Tenda-tenda ini, diperuntukkan untuk tidur jemaah perempuan dan anak-anak.

Para jemaah, di sepuluh malam terakhir Ramadhan banyak kegiatan, di antaranya Qiyamul Lail tiga juz/malam, kajian Tazkiyatun Nafs bada Shubuh, kajian setelah ashar dan buka puasa dan sahur jama’i.

Kegiatan lebih banyak difokuskan di malam hari, para jemaah melaksanakan salat tarawih dengan bacaan shalat 1/2 hingga 1 juz, diselingi dengan tidur 2 jam, kemudian dilanjutkan dengan Qiyamullail berjamaah dari pukul 00.30 selama 3 jam dengan bacaan shalat sampai 3 juz.

M Ridho Ronas (43) bersama istri dan ketiga anaknya ini sengaja meluangkan waktu untuk bisa beritikaf di Masjid Raya Habiburrahman PT Dirgantara Indonesia. Bersama dengan ratusan jamaah lainnya, Ridho dan keluarga ingin mengejar malam Lailatul Qadar.

“Ini pengalaman pertama saya bersama keluarga melakukan itikaf sampai luar pulau. Dari sebelum Ramadan, kami memang niat mau itikaf di Bandung dan mencari-cari tempat lewat internet,” kata Ridho saat ditemui di Masjid Raya Habiburrahman, Jalan Pajajaran, Selasa (28/6).

Meski harus membutuhkan biaya cukup besar dan jarak yang cukup jauh untuk bisa memboyong keluarga untuk beritikaf di Masjid Raya Habiburrahman, semua itu dilakoninya dengan ikhlas. Pengalaman pertama ini akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Untuk bisa beritikaf di Masjid Raya Habiburrahman diakuinya memang tidak mudah. Ia bersama istri harus terlebih dahulu meminta izin kepada instansi masing-masing tempatnya bekerja.

“Saat izin didapatkan, satu keluarga langsung melakukan persiapan. Termasuk, tenda dan berbagai peralatan dibeli termasuk tiket pesawat,” pungkasnya. cakrawalamedia.co.id (Nta)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *