Jawa Barat

Bocah Bersisik Diisolasi di RSHS

55
×

Bocah Bersisik Diisolasi di RSHS

Sebarkan artikel ini
Bocah Bersisik Diisolasi di RSHS

BANDUNG, (CAMEON) – Bocah bersisik, Diki Prianto, 12, asal Kampung Kertajaya RT 02 RW 12, Desa Kertajaya, Kecamatan Padalarang, Barat, terpaksa dirawat kembali dengan proses pengisolasian  di ruang anak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Penyakit  kulit menular yang bernama latin Norwegian Skabies atau yang akrab disebut penyakit ‘borok’ tersebut, pihak RSHS memerkirakan proses perawatan yang dibutuhkan mencapai hingga 10 hari.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, RSHS Kota Bandung, Inne Arline Diana, penyakit kulit yang diderita pasien bersumber dari kutu sarcoptus skabieis yang tumbuh dan berkembang di kulit manusia.

“Penyakit ini memang umum di masyarakat, apalagi jika ditambah dengan pasien kurang gizi. Penyakit itu semakin mudah menjalar tubuh,” kata Inne kepada wartawan saat preskon, Kamis (21/7).

Dia mengatakan, penyakit tersebut tersebut juga bisa semakin bertambah pada tubuh bila kondisi lingkungan tempat tinggal kurang baik. Untuk penanganan pasien dibutuhkan untuk perawatan mencapai 10 hari. Pemeriksaan sendiri akan dilakukan mulai aspek gizi hingga kondisi kulit pasien.

Penanganannya harus serempak baik dari pasien maupun lingkungannya, tidak bisa satu siklus. Kegiatan merendam baju yang telah dipakai dengan air panas di sini (RSHS) juga harus dilakukan di rumah. Bahkan perbaikan lingkungan dari kutu juga harus dikerjasamakan dengan Dinkes setempat.

Dia menjelaskan, pengamatan tim dokter RSHS yang menangani pasien tersebut, penyakit kulit tersebut juga ditemukan di lingkungan DS tinggal. Bahkan dalam hasil survei yang telah dilakukan RSHS sebelumnya, jumlah penderita penyakit kulit tersebut mencapai belasan.

Meski begitu, kondisi belasan pasien tersebut tak separah apa yang dialami Diki. Untuk perawatannya, kami terpaksa melakukan isolasi, karena ini menular.

“Selain itu, proses isolasi itu dilakukan agar tidak menyebabkan infeksi berlanjut pada pasien,” katanya.

Seperti diketahui, setelah menjalani perawatan pada 2014 lalu, DS terpaksa kembali menjalani perawatan khusus di RSHS pada hari selasa (19/7). Penyakit tersebut, kata Inne, terasa sejak pasien berusia tujuh tahun, dengan kondisi bintik-bintik merah pada bagian tangan. Namun sejak 2015, penyakit tersebut kembali muncul dan semakin parah hingga sekarang.

Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Nucky Nursamsyi mengatakan hal yang sama. Penyakit kulit yang diderita DS disebabkan karena nutrisi dan kebersihan yang tidak terkendali dengan baik.

“Sehingga untuk penyembuhan membutuhkan penanganan khusus dari ahli kulit dan kelamin,” ungkapnya.

Selama menjalani perawatan di RSHS, Nuki mengatakan prioritas perawatan tak hanya dalam penyakit kulit yang dideritanya. Melainkan juga kondisi  tubuh DS yang kaku akan didampingi agar bisa kembali normal.

“Lututnya kaku, nekuk. Jadi sama tim rehabilitasi didampingi  agar bisa menggerakan,” pungkasnya. cakrawalamedia.co.id (Nta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *