News

Ribuan Warga Tumpah Ruah di Karnaval Harlah NU ke-100 Tasikmalaya

311
×

Ribuan Warga Tumpah Ruah di Karnaval Harlah NU ke-100 Tasikmalaya

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Ribuan warga memadati pusat Kota Tasikmalaya sejak pagi, Sabtu7 Februari 2026. Arus massa bergerak dari Taman Kota menyusuri Jalan HZ Mustofa hingga Sutisna Senjaya untuk mengikuti karnaval budaya peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-100.

Peserta datang dari berbagai kalangan. Balita yang digendong orang tuanya, santri berseragam, pemuda dengan busana seni, hingga para lansia tampak menyatu dalam satu barisan. Tidak ada sekat usia maupun status sosial dalam perayaan satu abad NU di kota santri tersebut.

Berbeda dari peringatan seremonial di ruang tertutup, PCNU Kota Tasikmalaya memilih merayakan seabad NU di ruang publik. Jalanan kota menjadi panggung bersama, menegaskan karakter NU yang tumbuh dan berakar di tengah masyarakat.

Karnaval budaya ini tidak sekadar menjadi agenda perayaan organisasi. Lebih dari itu, ia menjadi penegasan nilai Islam moderat, tradisi, dan persatuan yang terus hidup dari daerah.

Antusiasme warga menjadi pemandangan yang sulit diabaikan. Ribuan peserta berjalan kaki dengan penuh semangat, tanpa mobilisasi atau iming-iming. Kehadiran mereka lahir dari rasa memiliki terhadap NU.

Ketua Panitia Harlah NU ke-100, Ajengan Aan Farhan, menyebut keterlibatan semua elemen sebagai ciri khas NU sejak awal berdiri.
“Semua unsur masyarakat terlibat dan melibatkan diri. Inilah wajah NU dari dulu hingga sekarang,” ujarnya.

Budayawan Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah, menilai karnaval tersebut sebagai ekspresi Islam kultural yang kian jarang ditemui di ruang publik nasional.
“NU berhasil merawat agama agar tetap hidup dalam budaya, bukan berhadap-hadapan dengannya,” kata Ashmansyah.

Sepanjang rute karnaval, peserta membawa beragam simbol budaya dan kehidupan sehari-hari. Pakaian adat Sunda, busana santri, alat pertanian, hingga hasil bumi turut diarak.

Padi, sayuran, dan buah-buahan menjadi penanda kuat bahwa mayoritas warga Nahdliyin hidup dari tanah dan alam. Pesan itu mengingatkan bahwa NU tidak hanya berbicara soal ibadah, tetapi juga tentang kehidupan sosial dan keberlanjutan umat.

Ketua PCNU Kota Tasikmalaya, KH Dudu Rohman, menyebut peringatan seabad NU sebagai momentum refleksi untuk menatap masa depan.
“Tantangan NU ke depan bukan hanya ideologi, tapi juga kemanusiaan, sosial ekonomi, dan lingkungan,” ujarnya.

Ia menegaskan, isu ketahanan pangan dan kelestarian alam harus masuk dalam agenda besar NU. Hal itu sejalan dengan realitas warga NU yang banyak bermukim di pedesaan dan bergantung pada sektor pertanian.

Menurut KH Dudu, NU juga memiliki peran penting dalam menjaga moderasi Islam di tengah meningkatnya polarisasi sosial. Nilai Ahlussunnah wal Jamaah seperti tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal harus terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin NU terus hadir sebagai perekat, penerang, dan penyejuk umat,” tegasnya.

Kehadiran pemerintah daerah dalam karnaval ini menegaskan posisi NU sebagai mitra strategis. Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, mengapresiasi peran PCNU dalam menjaga toleransi dan harmoni sosial.
“Ini modal sosial yang sangat berharga bagi Tasikmalaya,” katanya.

Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Aslim, menilai Tasikmalaya memiliki potensi besar sebagai kota santri dan kota budaya. Menurutnya, NU dapat menjadi salah satu motor penggerak pengembangan kebudayaan, keagamaan, dan pertanian di wilayah Priangan Timur.

Didirikan pada 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama lahir dari kegelisahan ulama terhadap masa depan umat dan bangsa. Dalam perjalanan sejarahnya, NU hadir dalam berbagai fase penting, mulai dari perjuangan melawan kolonialisme hingga menjaga keutuhan NKRI.

Satu abad kemudian, wajah NU dinilai tetap konsisten: membumi, dekat dengan rakyat, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Perayaan Harlah NU ke-100 di Tasikmalaya menjadi penegasan bahwa kekuatan NU tidak hanya bertumpu pada struktur nasional, tetapi juga pada denyut kehidupan warga di daerah—di jalanan kota, pesantren, desa, dan sawah.

Ketika karnaval usai dan massa kembali membubarkan diri, satu pesan menguat: NU tidak sekadar merayakan usia, tetapi merawat makna dan kebersamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *