News

Terbangkan Harapan Kota Tasikmalaya, Atlet Paralayang Muda Asah Mental di Puncak Bogor

43
×

Terbangkan Harapan Kota Tasikmalaya, Atlet Paralayang Muda Asah Mental di Puncak Bogor

Sebarkan artikel ini

BOGOR (CM) – Tiga atlet muda paralayang asal Kota Tasikmalaya tengah menjalani latihan intensif di kawasan Puncak Bogor sebagai persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XV Jawa Barat 2026.

Mereka adalah Rais Akbar Zahrani, Nashwa Zafira Sana Purwoko, dan Nathasa Khanza Aqilla. Ketiganya menjadi bagian dari program pembinaan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Kota Tasikmalaya untuk menghadapi ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.

Latihan bersama atau latber itu berlangsung sejak 13 hingga 20 Mei 2026 di salah satu kawasan favorit olahraga aerosport di Jawa Barat.

Dalam olahraga paralayang, latihan tidak hanya fokus pada kemampuan terbang. Atlet juga dituntut memahami karakter angin, menjaga konsentrasi, hingga mengendalikan mental saat berada di udara.

Binpres FASI Kota Tasikmalaya, Serka Dede Ruhiyat (47), mengatakan program latihan tersebut menjadi bagian dari persiapan serius untuk mengejar target medali di PORPROV XV Jawa Barat 2026.

“Ini merupakan latihan rutin program kerja khusus cabang olahraga paralayang sebagai pematangan untuk meraih target medali di ajang PORPROV nanti,” kata Dede Ruhiyat saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Menurut Dede, momentum setelah para atlet menyelesaikan ujian sekolah dimanfaatkan untuk meningkatkan intensitas latihan agar kemampuan mereka berkembang lebih maksimal.

“Kebetulan anak-anak habis selesai ujian. Rencana program saya seminggu latihan, seminggu pulang, terus berangkat lagi,” ujarnya.

Selama di Puncak Bogor, atlet paralayang Kota Tasikmalaya berlatih bersama atlet dari sejumlah daerah lain di Jawa Barat. Meski berada di lokasi yang sama, masing-masing daerah tetap menggunakan instruktur sendiri.

Dede menyebut daerah seperti Kabupaten Ciamis dan Garut juga aktif melakukan pembinaan atlet paralayang secara mandiri.

“Untuk Kabupaten Ciamis dan Garut mereka punya waktu tersendiri. Bisa latihan di Bogor, bisa juga di tempat lain. Garut misalnya minggu ini latihan di Gunung Haruman Jingga Limbangan,” katanya.

Meski demikian, FASI Kota Tasikmalaya masih menghadapi keterbatasan instruktur paralayang. Saat ini Kota Tasikmalaya belum memiliki instruktur sendiri untuk pembinaan atlet.

Menurut Dede, pada tahap ground handling atau latihan dasar sebelum terbang, para atlet dibina oleh Yunarto di Lanud Wiriadinata Tasikmalaya sebelum akhirnya mendapat pelatihan dari instruktur penerbangan.

“Kota Tasik belum punya instruktur. Selama ground handling sebelum terbang, latihan dilakukan bersama Pak Yunarto di Lanud Wiriadinata. Setelah siap terbang baru diberikan kepada instruktur,” ujarnya.

Kawasan Puncak Bogor dipilih karena dinilai memiliki karakter alam dan kondisi angin yang mendukung untuk latihan paralayang. Di lokasi itu atlet berlatih teknik take off, membaca arah angin, kestabilan saat terbang hingga akurasi pendaratan.

Selain kemampuan teknis, para atlet juga ditempa secara mental agar mampu tetap fokus dan tenang saat menghadapi berbagai kondisi penerbangan.

Ketua KONI Kota Tasikmalaya, Anton Suherlan, mengapresiasi langkah pembinaan yang dilakukan FASI Kota Tasikmalaya. Ia menilai latihan bersama penting untuk menambah pengalaman dan jam terbang atlet.

“Latihan bersama ini sangat penting untuk meningkatkan kemampuan atlet, terutama dalam menambah pengalaman dan jam terbang mereka. Kami berharap para atlet paralayang Kota Tasikmalaya dapat memanfaatkan momentum ini dengan maksimal sebagai persiapan menuju PORPROV XV Jawa Barat 2026,” kata Anton.

Menurutnya, KONI Kota Tasikmalaya terus mendorong setiap cabang olahraga agar serius melakukan pembinaan atlet secara berkelanjutan.

“KONI Kota Tasikmalaya berkomitmen memberikan dukungan terhadap program pembinaan atlet. Kami optimistis cabang olahraga paralayang memiliki potensi besar untuk memberikan prestasi membanggakan bagi Kota Tasikmalaya,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua II Bidang Prestasi KONI Kota Tasikmalaya, Dr. Nanang, menyebut olahraga paralayang membutuhkan kombinasi kemampuan teknik, fisik dan mental yang kuat.

“Paralayang bukan hanya soal keberanian, tetapi juga soal konsentrasi, teknik, dan pengalaman. Karena itu, latihan bersama seperti ini sangat efektif untuk meningkatkan kualitas atlet sebelum menghadapi kompetisi sesungguhnya,” ujar Dr. Nanang.

Ia berharap para atlet tetap disiplin menjalani latihan agar mampu bersaing di tingkat provinsi.

“Kami berharap para atlet terus meningkatkan konsistensi latihan, menjaga semangat, dan memiliki mental juara. Dengan persiapan yang matang dan latihan berkelanjutan, peluang meraih prestasi di PORPROV XV Jawa Barat 2026 tentu sangat terbuka,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *