Jawa Barat

Wabah DBD Serang 2 Orang Warga Babakan Pangandaran

95
×

Wabah DBD Serang 2 Orang Warga Babakan Pangandaran

Sebarkan artikel ini
Sulit Mendapatkan Obat, Pasien DBD Pangandaran Dirujuk Ke RSUD Ciamis
Malik Rizal (7) saat terkulai lemas di ruang rawat inap Puskesmas Pangandaran

PANGANDARAN, ( CAMEON ) – Akibat terserang penyakit demam berdarah dengue (DBD), Malik Rizal (7) dan Amelinda (9) warga Dusun Kamurang, RT. 02, RW. 10, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat tergolek lemas di Puskesmas Pangandaran.

Berdasarkan informasi yang dihimpun CAMEON, kedua korban yang terjangkit DBD itu sebelum dilarikan ke Puskesmas sempat dilakukan pengobatan di rumah masing-masing selama 2 hari.

Salah satu orang tua korban Amelinda, Ujang Juarman mengaku khawatir dengan kondisi anaknya yang terus menerus mengalami muntah dan buang air besar terus. “Awalnya sih cuma panas doang, tapi setelah dua hari dia (Amelinda) mengalami muntah-muntah dan BAB,” ujarnya kepada CAMEON saat ditemui di ruang Melati Puskesmas Pangandaran. Kamis (16/6).

“Selama di rumah saya hanya mengandalkan obat biasa seperti Faracetamol, karena kondisinya mengkhawatirkan hari selasa pagi saya bawa Amelinda ke sini (Puskesmas),” jelas Ujang.

Namun, kata Ujang, dirinya merasa kecewa atas pelayanan di Puskesmas Pangandaran yang terkesan judes dan sangat tidak memuaskan. “Tadi sewaktu Dr Mayasari melakukan pemeriksaan terhadap beberapa pasien termasuk anak saya, perawat lainnya bilang ” Yang jaga pasien harus satu orang” dengan nada judes,” keluhnya.

Hal senada juga diungkapkan orang tua Malik rizal (7), Muhidin mengatakan anaknya terjangkit DBD sejak empat hari ke belakang. “Kalau di sini mah (Puskesmas) baru dua hari,” tambahnya.

Muhidin juga mengeluhkan sulitnya mencari obat Asering (I) botol di beberapa Apotek yang ada di Kabupaten Pangandaran. “Saya dikasih resep sama Dr Arif untuk membeli obat bernama Asering, tapi sampai saat ini saya belum juga mendapatkan, semalam juga sampai Cijulang,”keluhnya.

” Jika hari ini obat tersebut tidak kami dapatkan, terpaksa saya harus mencari ke Banjar,” katanya.

Muhidin sangat menyesalkan dengan sulitnya obat-obatan di Kabupaten Pangandaran. “Padahal Pangandaran ini sudah jadi Kabupaten, tapi betapa sulitnya mencari obat Asering, dokter cukup ngasih resep doang tanpa melakukan pencarian, jika obat tersebut belum kami dapatkan, bagaimana nasib anak saya?,” pungkasnya. cakrawalamedia.co.id (Andriansyah)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *