News

Pagelaran Ceurik Oma Representatif Watak Perempuan

133
×

Pagelaran Ceurik Oma Representatif Watak Perempuan

Sebarkan artikel ini
Pagelaran Ceurik Oma Representatif Watak Perempuan

BANDUNG, (CAMEON)-Menghadapi dunia pernikahan nampaknya memang bukan perkara yang mudah. Ada banyak dinamika yang perlu dihadapi oleh perempuan untuk bisa mengimbangi sosok lelaki yang maskulin. Baik itu akan masalah ekspresi cinta maupun komunikasi tidak bisa mewujudkan habitat rumah tangga yang harmonis.

Apalagi jika sang suami ditengah perjalanan menjadi seorang pemimpin suatu daerah. Kisah percintaan tersebut menjadi sangat rumit untuk terus dihayati. Sosok perempuan yang lemah lembut dan penyanyang seketika hilang jika harus terus disakiti.

Cerita tersebut ternyata dipentaskan dengan apik dalam sebuah pertunjukan Gending Karemen “Ceurik Oma” di Gedung Graha Sanuni Universitas Padjajaran, Rabu lalu (14/12). Dalam sebuah teater yang dibalut dalam bentuk pupuh ini dipentaskan lengkap dengan alat musik kecapi dan suling menjadi perpaduan yang indah.

Ada yang menarik dalam pementasan tersebut. Tembang Ceurik Oma ini hanya berisi dengan 17 bait pupuh Asmaranda. Bahkan, jauh sebelumnya, tembang “Ceurik Oma” sering dikenal dengan “Jemplang Serang” yang dibuat oleh Mang Uce seniman asal Cianjur. Digantinya judul, diperkirakan supaya lebih halus dalam pengucapan. Sebab, bahasa Sunda sendiri memiliki undak-usuk bahasa yang penggunaannya seringkali berbeda bagi setiap elemen masyarakat.

Sebanyak 17 bait pupuh Asmaranda yang digunakan digunakan ini syarat akan makna muatan lokal. Hal ini menjadi petanda perkembangan tidak statis. Bahkan, menjadi menarik dalam pementasan tersebut ada sebuah kutipan yang menyiratkan kebiasaan yang menjadi sosok perempuan. Yakni, ”Deukeut deuleu pondok lengkah. Da puhuh abdi awewe. Seueur karisi karempan. Kana Sagala halangan. Mungguhing pangjak napsu Tara reujeung kira-kira. ”

Sebagai Sutradara Ganjar Kurnia mengaku latihan intens hanya dilakukan selama tiga hari. ”Total latihanya sebenarnya dua minggu, akan tetapi latihan intens dengan lengkap dengan musik hanya tiga hari,” jelas Ganjar kepada wartawan saat ditemui usai pementasan, Rabu Sore (14/12).

Latihan singkat tersebut, dengan catatan para pemeran sudah sangat hafal dengan kalimat-kalimat yang akan ucapan. Sehingga, tiga hari latihan terakhir dirasa sangat maksimal.
Menurutnya, naskah tersebut sempat dipentaskan pada tahun 1980-an. Dalam pementasan kali ini, ada banyak bagian yang pihaknya ubah sehingga naskah tersebut menjadi naskah baru.

Dibantu dengan beberapa rekanannya, pihaknya merasa puas dengan pementasannya. Walaupun begitu, pihaknya masih mencatat ada beberapa kekurangan mengenai teknis pelaksaan. Seperti, sound system, lighting, artikulasi harus jelas dan lain sebagainya.

”Penyampaian naskah yang dilaksanakan secara langsung, pasti ada beberapa hal teknis yang tidak berjalan dengan baik. Tapi, secara keseluruhan saya puas dengan pemantasan tersebut,” jelasnya.

Selain itu, terutama untuk para aktor dan pemusik pihaknya sengaja memilih para generasi muda. Hal tersebut sebagai salah satu cara pelestarian seni sebagai warisan leluhur.

”Anak-anak sendiri merupakan anak SMA yang memang senang berkecimpung dalam dunia seni Cianjuran,” pungkasnya. (Putri).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *