Kota Bandung

Festival Drama Basa Sunda Pelajar, SMAN 1 Mangunjaya Pangandaran Pentaskan Naskah Baru

177
×

Festival Drama Basa Sunda Pelajar, SMAN 1 Mangunjaya Pangandaran Pentaskan Naskah Baru

Sebarkan artikel ini
Festival Drama Basa Sunda Pelajar, SMAN 1 Mangunjaya Pangandaran Pentaskan Naskah Baru

BANDUNG, (CAMEON) – Ada yang menarik di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung, Senin (20/3/2017). Lebih dari 30 orang pelajar SMAN 1 Mangunjaya, Pangandaran, mementaskan naskah drama Salayar Dami pada Festival Drama Basa Sunda Pelajar. Naskah baru diperankan secara apik dalam bahasa sunda.

Naskah campuran antara dunia nyata dan fiksi ini banyak mengangkat permasalahan di Indonesia. Mulai dari aksi damai, dunia artis, jurnalis, lingkungan hingga Sangkuriang yang menemukan kembali Dayang Sumbi di dunia nyata.

Diawal, penonton disuguhkan dengan nyanyian kritikan tentang sampah. Lalu, pemeran Dami seolah sedang bermain sandiwasa penculikan dengan pengasuhnya. Di mana dalam percakapan, Dami meminta diturunkan biaya pendidikan kepada presiden.

Menuju pertengahan, Dami meminta sebuah dongeng kepada pengasuhnya. Pengasuhnya yang sebut Bibi pun mau menceritakan sebuah dongeng masalalunya. Ketika pertengahan dongeng, Dami heran dengan keluarnya sosok Sangkuriang yang merasa rindu dengan Dayang Sumbi.

Sebuah rasa sakit pun terus diingat setiap saat kala dongeng Sangkuriang terus didengar hingga saat ini. Namun, dihadapan Dami Sangkuriang mengakui telah menemukan Dayang Sumbinya yang hilang. Sangkuriang menyakini Dami adalah perwujudan Dayang Sumbi.

Namun, dunia keduanya berbeda. Sangkuriang berada di dunia dongeng. Sedangkan, Dami berada di dunia nyata. Namun, salah satu juri Tatang Abdulah menilai naskah Selasar Dami serius. Di mana naskah tersebut terlalu berat untuk kalangan pelajar.

“Naskah ini mungkin cocok dengan teater lainnya yang sudah paham dengan makna di dalamnya,” ungkapnya.

Pihaknya, berharap dalam pembuatan naskah, bisa sesuai dengan standar pelajar. Diakui olehnya, naskah teater bahasa sunda cukup minim. Dengan adanya, festival teater bahasa sunda ini, akan terlahir banyak penulis drama bahasa sunda.

Terutama naskah drama yang sesuai dengan umur para pemeran. “Mungkin ke depan, naskah bisa sesuai dengan usia,” katanya.

Di sisi lain, pihaknya menganggap festival ini sebagai pelestarian bahasa sunda di kalangan pelajar. Untuk itu, pihaknya akan terus mengajak generasi muda untuk berteater dan berbahasa sunda. (Putri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *