Jawa Barat

Dua Masjid Unik di Kota Bandung Berornamen Tionghoa

72
×

Dua Masjid Unik di Kota Bandung Berornamen Tionghoa

Sebarkan artikel ini
Dua Masjid Unik di Kota Bandung Berornamen Tionghoa

BANDUNG, (CAMEON) – Dua Masjid yang berornamen Tionghoa di Bandung setiap harinya selalu ramai dan banyak pengunjung, yaitu Masjid Lautze yang berada di jalan Tamblong dan Masjid Imtijaz di jalan Banceuy. Itu tidak terlepas dari masuknya orang-orang Tionghoa di Kota Bandung. Begitu juga dengan penyebaran agama Islam di Kota Kembang ini.

Dua masjid tersebut setiap harinya selalu banyak pengunjungnya. Mereka bukan hanya orang Tionghoa saja, melainkan orang sekitar pun singgah untuk melaksanakan salat. Salah satu masjid yang selalu ramai pengunjungnya, yaitu Masjid Lautze.

Asal kata “Lautze” berasal dari seorang tokoh muslim Tionghoa yang memeluk Islam pada tahun 1930an. Lautze sebenarnya tokoh mualaf Tionghoa. Ia adalah seorang filosof bijak yang hidup di negara Cina bagian utara. Masjid Lautze ini merupakan pusatnya etnik Tionghoa jika ingin bersyahadat.

Menurut Pengurus masjid Lautze, Jesslyn Reiner, dahulu ketika didirikan masjid ini bertujuan sebagai pusat informasi Islam terutama bagi etnis Tionghoa, serta membina iman tauhid Islam kepada para mualaf Tionghoa.

”Dulu sekitar tahun 80-an terdapat jurang pemisah antara etnis Tionghoa dan pribumi. Sehingga etnis Tionghoa yang beragama Islam tidak bisa belajar tentang Islam,” katanya.

Dia menerangkan saat kerusuhan Mei 1998, orang-orang Tionghoa kesulitan belajar tentang Islam. Masjid Lautze yang ada di Bandung merupakan masjid kedua. Menurutnya, Masjid Lautze yang pertama didirikan pada 9 April 1991, dan diresmikan pada 4 Februari 1994 oleh Presiden BJ Habibie. Baru sekitar tahun 1997 Masjid Lautze dua didirikan di Bandung.

Dikatakannya, masjid yang berada di Jakarta menjadi pusat dari Masjid Lautze di Bandung. Masjid Lautze di Jakarta dan di Bandung dikelola oleh Yayasan Haji Karim Oei.

Hj Karim Oei merupakan pendiri dari masjid Lautze yang sekaligus menjadi sahabat Buya Hamka dan Bung karno. Foto ketiganya ikut dipajang di masjid itu sebagai bukti sejarah. Masjid yang bangunannya seperti bangunan toko itu berukuran 7 x 6 meter dan hampir seluruh temboknya berwarna merah. Masjid itu dibangun oleh arsitek lulusan ITB bernama Umar Widagdo.

”Sampai hari ini di Bandung ada sekitar 150 orang Tionghoa yang menjadi mualaf,” katanya.

Pembinaan orang Tionghoa di Masjid Lautze sendiri kurang lebih selama 3 bulan. Hal tersebut bermaksud untuk meneguhkan keimanan. Setelah itu, barulah dilepas dan berbaur dengan masyarakat.

Seiring dengan berjalannya waktu, Masjid Lautze dan masyarakat Tionghoa saat ini cukup berbaur dengan masyarakat sekitar. Bahkan, ada banyak program untuk masyarakat sekitar di antaranya kursus Bahasa Mandarin, Bahasa Arab, dan kursus Shufa (seni kaligrafi Tionghoa).

Program lainnya yang tak kalah menarik seperti Khalifah Singer dan Lautze Publishing. Khalifah Singer sendiri merupakan kelompok vokal lagu-lagu religi Islam dengan sentuhan instrumen khas Tionghoa. Sedangkan Lautze Publishing merupakan penerbitan yang memfokuskan diri mencetak buku-buku Islam dan Tionghoa.

”Untuk perayakan Imlek memang tidak ada larangan sejauh tidak turut melakukan hal-hal yang dapat melanggar akidah,” katanya.

Kalau sekedar kumpul dengan keluarga dan saling bersilaturahmi tidak masalah. Nuansanya jadi mirip seperti merayakan lebaran. Perayaan Imlek di kalangan muslim keturunan Tionghoa hanya lingkup keluarga saja, tidak secara khusus dirayakan di masjid mereka. (Putri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *