KOTA TASIK (CM) – Menjelang bulan suci Ramadan, minat masyarakat Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, untuk menunaikan ibadah umroh menunjukkan peningkatan tajam. Kondisi ini menjadi tren rutin setiap tahun, namun kali ini terlihat dengan karakter yang berbeda dibandingkan periode sebelumnya.
Bukan hanya jumlah peminat yang melonjak, perubahan juga tampak dari latar belakang jamaah serta pilihan paket perjalanan yang semakin variatif. Umroh yang dulu identik dengan jamaah usia lanjut, kini justru diminati lintas generasi, termasuk kalangan muda.
Anak muda hingga pelaku ekonomi digital kini banyak tercatat sebagai calon jamaah. Mulai dari pebisnis online, pekerja profesional, sampai influencer media sosial, turut meramaikan antrean keberangkatan ke Tanah Suci.
Lonjakan tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha perjalanan umroh di Tasikmalaya. Manager Smarts Umrah Tasikmalaya, Anita Mardiana (37), menyebut Ramadan masih menjadi musim puncak umroh setiap tahunnya.
“Ramadan memang selalu peak season. Jamaah biasanya sangat antusias karena ada keyakinan pahala umroh di bulan Ramadan setara dengan haji,” kata Anita saat ditemui di kantornya di Jalan Sutisna Senjaya, Kecamatan Tawang, Kamis 5 Februari 2026.
Tingginya minat itu berdampak pada cepatnya kuota keberangkatan habis, meskipun biaya umroh Ramadan cenderung lebih mahal dibandingkan bulan lainnya.
“Untuk keberangkatan Ramadan tahun ini, kuota di tempat kami sudah penuh sejak jauh hari. Banyak yang daftar dari beberapa bulan sebelumnya,” ujarnya.

Menurut Anita, fenomena ini mencerminkan pergeseran cara pandang masyarakat terhadap ibadah umroh. Saat ini, jamaah usia muda justru mendominasi pendaftaran.
“Sekarang mindset-nya berubah. Umroh bukan lagi ibadah yang ditunda sampai tua. Anak muda melihat umroh sebagai kebutuhan spiritual,” jelasnya.
Ia menilai perkembangan ekonomi digital turut berkontribusi pada tren tersebut. Banyak generasi muda yang berhasil secara finansial melalui bisnis online, e-commerce, maupun konten digital, lalu terdorong untuk menunaikan umroh.
“Banyak anak muda yang sudah mapan secara ekonomi dari dunia digital, lalu merasa terpanggil untuk beribadah. Bahkan di kalangan influencer, umroh sudah seperti bagian dari perjalanan hidup,” katanya.
Media sosial juga ikut membentuk pola minat generasi muda. Selain beribadah, pengalaman berada di Tanah Suci kerap dibagikan melalui platform digital.
“Ada sisi gaya hidup, seperti dokumentasi foto atau video. Tapi selama niat utamanya ibadah, itu tidak jadi masalah,” ungkap Anita.
Selain faktor demografi, inovasi produk perjalanan turut mendorong tingginya minat. Paket umroh yang dikombinasikan dengan wisata ke luar negeri kini semakin diminati.
“Paket umroh plus wisata memang sedang tren. Biasanya setelah ibadah, jamaah diajak ke negara lain seperti Turki atau Dubai,” jelasnya.
Konsep tersebut dinilai lebih praktis karena jamaah dapat menunaikan ibadah sekaligus berwisata dalam satu perjalanan.
“Sekali berangkat bisa dapat ibadah dan pengalaman wisata. Dari sisi waktu dan biaya juga lebih efisien,” tambahnya.
Meski demikian, Anita mengingatkan agar jamaah tetap memprioritaskan kekhusyukan ibadah, terutama bagi mereka yang baru pertama kali umroh.
“Kalau umroh pertama, sebaiknya fokus ibadah dulu. Karena aktivitas umroh cukup menguras fisik,” katanya.
Tingginya minat umroh juga didukung oleh kemudahan sistem pembayaran. Saat ini, banyak agen perjalanan menawarkan skema cicilan atau tabungan umroh.
“Sekarang ada sistem menabung, bahkan ada juga yang berangkat dulu lalu dicicil lewat lembaga pembiayaan atau bank,” ujar Anita.
Ia menilai kemudahan tersebut membantu masyarakat yang memiliki niat kuat beribadah, namun terbentur keterbatasan dana.
“Dukungan pembiayaan dari perbankan cukup besar, sehingga makin banyak masyarakat yang bisa berangkat umroh,” pungkasnya.







