News

Sungai Ciwulan Diduga Tercemar Mikroplastik, Aktivis Ingatkan Ancaman Krisis Air di Tasikmalaya

47
×

Sungai Ciwulan Diduga Tercemar Mikroplastik, Aktivis Ingatkan Ancaman Krisis Air di Tasikmalaya

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Momentum Hari Air Sedunia yang diperingati setiap 22 Maret menjadi pengingat penting tentang peran air sebagai sumber kehidupan.

Di Kota Tasikmalaya, peringatan ini juga menjadi refleksi atas ancaman pencemaran sumber air yang dinilai semakin mengkhawatirkan.

Ketua Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (FKDAS) Kota Tasikmalaya, H Sigit Wahyu Nadika mengatakan air merupakan elemen vital yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia dan lingkungan.

Menurutnya, banyak masyarakat hanya merasakan kemudahan saat mengakses air bersih tanpa memahami proses panjang dalam menjaga ketersediaan dan kualitas air.

“Di balik kemudahan yang kita rasakan saat mengakses air bersih, terdapat proses panjang serta tanggung jawab besar untuk menjaga ketersediaan dan kualitasnya,” kata Sigit saat merespons peringatan Hari Air Sedunia 2026.

Ia mengajak masyarakat untuk mulai menjaga sumber daya air dari langkah sederhana, seperti menggunakan air secara bijak, tidak berlebihan dalam pemakaian, serta menjaga lingkungan di sekitar sumber air.

Menurut Sigit, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan kehidupan di masa depan.

Sementara itu, peringatan serius disampaikan Presiden Republik Aer Tasikmalaya, Harniwan Obech. Ia menyoroti kondisi Sungai Ciwulan yang diduga telah tercemar mikroplastik.

“Kita prihatin Sungai Ciwulan di Tasikmalaya terindikasi darurat pencemaran mikroplastik, dengan temuan 180 partikel per 100 liter air. Itu hasil penelitian dari Ecoton bersama komunitas Republik Aer beberapa tahun lalu,” kata Obech.

Menurutnya, pencemaran mikroplastik tersebut berasal dari sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik serta limbah rumah tangga seperti detergen yang akhirnya terurai menjadi partikel plastik berukuran sangat kecil.

“Partikel mikroplastik ini berbentuk filamen, serat dan fragmen,” ujarnya.

Obech menjelaskan, mikroplastik berpotensi masuk ke dalam rantai makanan manusia melalui ikan yang hidup di perairan tercemar. Kondisi tersebut tidak hanya merusak ekosistem perairan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi manusia.

Selain itu, kandungan fosfat dari detergen rumah tangga juga dapat memperburuk kualitas air karena memicu eutrofikasi atau pertumbuhan alga berlebihan yang menurunkan kualitas perairan.

Ia menilai kondisi ini menjadi peringatan bahwa krisis air bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan persoalan yang sudah mulai dirasakan saat ini.

Baik FKDAS maupun komunitas lingkungan mendorong adanya kesadaran kolektif untuk menjaga sumber daya air, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengelola limbah rumah tangga dengan baik, hingga menjaga kebersihan sungai dan sumber air.

Momentum Hari Air Sedunia 2026 diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi titik awal perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *