JAKARTA (CM) – Pemerintah melalui Kementerian Agama RI resmi mengumumkan jadwal pelaksanaan sidang isbat untuk menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi. Agenda tahunan ini menjadi penentu awal ibadah puasa bagi umat Islam di Indonesia.
Informasi tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, dalam rapat Tim Hisab Rukyat yang digelar di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Rabu 11 Februari 2026.
Sidang isbat dilaksanakan setiap akhir bulan Syaban sebagai bentuk pelayanan pemerintah dalam memberikan kepastian waktu ibadah.
Mengutip laman resmi Kemenag, sidang isbat bukan sekadar rutinitas tahunan. Keputusan yang dihasilkan memiliki dampak luas, tidak hanya pada pelaksanaan ibadah, tetapi juga terhadap berbagai sektor publik.
“Kepastian awal ibadah ini penting karena berpengaruh pada operasional perkantoran, layanan masyarakat, hingga perbankan dan kepentingan publik lainnya. Implikasi yang kompleks ini membutuhkan kehadiran negara dalam mengakomodasi kemaslahatan bersama,” ujar Abu Rokhmad.
Dalam pelaksanaannya, sidang isbat mempertemukan ulama, pakar fikih, ahli astronomi, serta perwakilan pemerintah. Forum ini membahas hasil perhitungan hisab dan laporan rukyat untuk menentukan awal bulan kamariah, termasuk Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.
Selain menetapkan tanggal, sidang isbat juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai metode penentuan kalender Islam. Perbedaan pendekatan antara hisab dan rukyat kerap memunculkan dinamika di tengah umat.
Abu Rokhmad menegaskan, pemerintah tidak berada dalam posisi mempertentangkan kedua metode tersebut. Sebaliknya, Kemenag berupaya mengintegrasikan hisab dan rukyat dalam satu keputusan yang mempertimbangkan berbagai aspek.
“Kemenag ingin mengedukasi masyarakat, bukan mempertajam perbedaan. Pemerintah ingin memberi pemahaman bahwa perbedaan metode memiliki implikasi yang kompleks,” katanya.
Bagi umat Islam, sidang isbat selalu menjadi momen penting menjelang Ramadhan. Selain menandai dimulainya ibadah puasa, keputusan tersebut juga diharapkan menjadi simbol kebersamaan dalam menjalankan ajaran agama di tengah keberagaman pandangan.







