CiamisNews

Nunu Nuryana, Pelopor Pelestarian Karinding dan Gongti Sunda

268
×

Nunu Nuryana, Pelopor Pelestarian Karinding dan Gongti Sunda

Sebarkan artikel ini

CIAMIS (CM) – Sebuah warisan seni musik tradisional Sunda yang hampir terlupakan, yaitu alat musik Karinding dan Gongti, kini diperjuangkan oleh seorang seniman Sunda berbakat bernama Nunu Nuryana.

Lahir di Ciamis pada tanggal 08 November 2001, Nunu tidak hanya mahir dalam memainkan kedua alat musik tersebut tetapi juga memiliki keterampilan luar biasa dalam proses pembuatannya.

Keahlian Nunu bukan hanya terbatas pada permainan Karinding, melainkan juga mencakup keahlian dalam pembuatan alat musik tersebut.

Menggunakan bambu sebagai bahan utama, Nunu mampu menghasilkan nada indah melalui Karinding dan Gongti, dan keduanya dapat disesuaikan baik untuk mengiringi nada pentatonis maupun diatonis.

Setiap hari, Nunu dengan penuh dedikasi mampu menciptakan 5 hingga 10 buah Karinding. Perjalanan Nunu dalam dunia Karinding dan Gongti dimulai pada tahun 2014 bersama dengan Ncep Bilal, seorang tokoh yang mendalami seni musik tradisional Sunda.

Nunu secara rinci menjelaskan tentang Karinding, alat musik khas Jawa Barat yang terbuat dari pelepah daun kawung atau bilahan bambu kecil.

BACA JUGA: Kelompok Pemantauan Lingkungan Minta Pemkot Tasik Evaluasi Pembatasan Penggunaan Plastik Sekali Pakai

“Asal kata ‘Karinding’ dalam bahasa Sunda berasal dari ‘ka ra da hyang,’ yang artinya diiringi doa sang Maha Kuasa. Ada juga yang mengartikannya sebagai ‘ka’ (sumber) dan ‘rinding’ (bunyi),” terang Nunu.

Karinding awalnya digunakan sebagai alat untuk mengusir hama di sawah. Suara rendah yang dihasilkan dari getaran jarum Karinding bersuara rendah dan biasanya bersifat ultrasonik, menyerupai suara wereng, belalang, jangkrik, burung, dan sebagainya.

Nunu tidak hanya terampil dalam memainkan dan membuat Karinding, tetapi juga memahami filosofi dan seni yang terkandung di dalamnya.

Karinding, yang memiliki sejarah panjang sejak enam abad yang lalu, kini tidak hanya digunakan sebagai alat musik upacara adat atau ritual tetapi juga untuk mengiringi pembacaan rajah.

Abah Olot, nama asli Endang Sugriwa, diakui sebagai tokoh awal pengembangan musik Karinding. Dia mengembangkan alat musik ini dengan memanfaatkan bilah enau atau bambu sebagai perkusi.

Menurut Abah Olot, terdapat empat jenis nada atau pirigan dalam memainkan Karinding, yaitu tonggeret, gogondangan, rereogan, dan iring-iringan.

Nunu, yang telah tampil di berbagai kota di Indonesia untuk memperkenalkan alat musik tradisional ini, menyampaikan keinginannya agar Pemerintah Daerah memberikan dukungan, terutama melalui Dinas Pendidikan.

Ia berharap pemahaman dan keterampilan memainkan Karinding dan Gongti dapat diintegrasikan sebagai bagian dari kurikulum di setiap sekolah, sehingga seni budaya Sunda dapat lestari di kalangan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *