KOTA TASIK (CM) – Suasana menjelang waktu berbuka puasa di Kota Tasikmalaya terasa khidmat di sebuah majelis sederhana. Puluhan penyandang tunanetra tampak duduk bersila sambil meraba lembaran mushaf Al-Qur’an Braille yang ada di hadapan mereka.
Kegiatan tersebut merupakan tadarus Al-Qur’an yang rutin digelar oleh jamaah Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah setiap bulan Ramadan. Bagi para jamaah, waktu ngabuburit dimanfaatkan untuk membaca dan mempelajari ayat suci Al-Qur’an melalui huruf Braille.
Jari-jari para jamaah bergerak perlahan mengikuti pola titik timbul pada lembaran mushaf. Melalui indera peraba itulah mereka membaca huruf demi huruf ayat Al-Qur’an dengan penuh ketekunan.
Sesepuh Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah, Mamat Rahmat, mengatakan kegiatan tadarus Braille telah menjadi agenda tahunan yang selalu dilaksanakan selama Ramadan.
“Setiap bulan Ramadan kami rutin mengadakan tadarus Al-Qur’an Braille. Ini sudah menjadi tradisi yang selalu dinantikan para jamaah tunanetra,” kata Mamat Rahmat, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga menjadi ruang belajar sekaligus mempererat kebersamaan antar penyandang tunanetra di Tasikmalaya.
Menurutnya, membaca Al-Qur’an dengan huruf Braille membutuhkan proses belajar yang tidak mudah. Para jamaah harus berlatih dalam waktu cukup lama agar dapat membaca ayat demi ayat dengan lancar.
Huruf Braille sendiri merupakan sistem tulisan berbentuk titik-titik timbul yang dapat dibaca dengan indera peraba. Dalam mushaf Al-Qur’an Braille, setiap huruf Arab diubah menjadi kombinasi titik yang dapat dirasakan dengan ujung jari.
Meski menghadapi keterbatasan penglihatan, semangat para jamaah untuk mempelajari Al-Qur’an tetap tinggi. Setiap ayat yang berhasil mereka baca menjadi bagian dari perjuangan sekaligus bentuk ibadah.
Pegiat sosial di Kota Tasikmalaya, Harniwan Obech, mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh para penyandang tunanetra tersebut. Ia menilai huruf Braille memiliki peran penting dalam membuka akses pembelajaran agama bagi penyandang disabilitas.
“Huruf Braille sangat membantu penyandang tunanetra dalam membaca Al-Qur’an. Kegiatan tadarus seperti ini juga sangat baik untuk mengisi amaliah Ramadan,” ujarnya.
Selain menjadi kegiatan ibadah, tadarus Braille juga menjadi ajang silaturahmi bagi para penyandang tunanetra dari berbagai wilayah di Kota Tasikmalaya.
Salah seorang jamaah yang datang dari Kecamatan Mangkubumi mengaku kegiatan tersebut menjadi momen berharga untuk bertemu sesama penyandang disabilitas netra.
“Selain membaca Al-Qur’an, ini juga menjadi kesempatan bagi kami untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan teman-teman tunanetra lainnya,” katanya.
Kegiatan tadarus Braille ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk terus belajar dan mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, terutama di bulan suci Ramadan.







