Keberadaan Angklung di Peradaban Modern

by redaksi | 10 Januari 2019 3:55 pm

CIAMIS (CM) – Angklung. Angklung adalah salah satu alat musik tradisional khas Jawa Barat yang terbuat dari bambu. Bahkan, alat musik tradisional itu sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Pada zaman dahulu, angklung digunakan untuk beberapa ritual keagamaan. Khususnya digunakan untuk memanggil Dewi Sri. Atau biasa disebut Dewi Padi guna memberikan kesuburan terhadap lahan-lahan pertanian. Tapi setelah sekian lama, angklung mulai digunakan juga sebagai salah satu instrument kesenian daerah. Pasalnya, suara-suara yang dikeluarkan oleh alat musik ini sangatlah merdu.

Namun kini, di tengah peradaban modern. Keberadaan angklung mulai tergeser oleh alat musik modern seperti biola, gitar, atau bahkan keyboard elektrik. Itu diakui oleh salah satu penggiat sekaligus pengrajin angklung sanggar Panji Mekar, Kampung Nempel, Desa Panyingkiran, Kabupaten Ciamis, Mumu Alimudin.

Menurutnya, kini ketertarikan masyarakat terhadap alat musik angklung mulai sedikit redup. Bahkan tak sedikit masyarakat yang tidak bisa bermain angklung. Meskipun hanya digoyang, bermain angklung tak semudah kelihatanya. Ada teknik khusus serta diperlukan rasa kebersamaan yang tinggi untuk menciptakan suara yang merdu.

Terlebih jika berbicara soal generasi era milenial. Mereka cenderung menyukai alat musik modern ketimbang alat musik tradisional seperti angklung. Namun, pria yang akrab disapa Kang Mumu itu mengaku tak tinggal diam. Ia selalu berusaha untuk bisa mengenalkan angklung sedini mungkin kepada para generasi muda agar mereka bisa melestarikan angklung.

Bahkan katanya, ia bekerjasama dengan salah satu lembaga pendidikan untuk mewujudkan hal itu. Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Provinsi Jawa Barat, menjadi rekan Mumu dalam melaksanakan misinya itu.

Beberapa kegiatan pun telah dilakukan. Salah satunya adalah dengan memberikan pemahaman kepada para guru TK tentang tata cara bermain angkling yang baik. Itu diwujudkan dalam salah satu workshop beberapa waktu yang lalu.

“Dalam acara itu, para guru diajarkan tentang bagaimana bermain angklung dengan baik supaya anak didiknya bisa dengan mudah belajar bermain angklung,” kata Mumu dalam satu kesempatan, Kamis (10/01/2019).

Saat ditanya soal mengapa memilih pendidikan dasar sebagai media awal pengenalan angklung, Mumu mengatakan, itu salah satu strateginya. Katanya, dengan mengenalkan angklung sedini mungkin, diharapkan generasi kedepan bisa lebih mencintai alat musik tradisional ketimbang modern.

“Kalau dalam pendidikan menengah sampai tingkat atas, tak sedikit siswa yang telah terbawa arus budaya asing. Sehingga ketika ditawarkan kebudayaan lokal dalam hal ini musik tradisional, beberapa diantaranya kurang begitu antusias,” imbuhnya.

Mumu menyebutkan, bermain angklung bagi anak usia dini juga memiliki manfaat lain. Selain sebagai bentuk upaya untuk melestarikan alat musik tradisional, juga untuk melatih rasa tanggung jawab, gotong royong, kerjasama, serta konsentrasi.

“Misalnya, mereka memiliki rasa tanggung jawab tentang kapan angklung harus dibunyikan, serta kapan angklung berhenti dibunyikan. Karena, kalau semua dibunyikan tidak akan menjadi aransement musik yang baik. Karena, dalam musik angklung, notnya bisa dibagi-bagi, satu orang satu note,” jelas Mumu.

Ia berharap, dengan usaha yang selama ini diperjuangkanya, alat musik angklung bisa kembali memiliki ruang pada generasi muda. Khususnya di Jawa Barat, agar alat musik tersebut bisa terus eksis kendati zaman kian berkembang. (Sep)

Source URL: https://www.cakrawalamedia.co.id/keberadaan-angklung-di-peradaban-modern/