News

Balap Liar Marak Saat Ramadan di Kota Tasikmalaya, IMI Ajak Remaja Tasikmalaya Beralih ke Balap Resmi

69
×

Balap Liar Marak Saat Ramadan di Kota Tasikmalaya, IMI Ajak Remaja Tasikmalaya Beralih ke Balap Resmi

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Fenomena balap liar kembali merebak selama bulan suci Ramadan di Kota Tasikmalaya. Aktivitas yang kerap terjadi saat ngabuburit maupun menjelang sahur itu tidak hanya meresahkan pengguna jalan, tetapi juga memunculkan persoalan sosial yang lebih kompleks.

Sejumlah ruas jalan dilaporkan kerap menjadi lokasi balapan, salah satunya Jalan Letnan Mashudi. Aksi kebut-kebutan tersebut memicu kemacetan mendadak, membahayakan pejalan kaki, hingga berpotensi menimbulkan kecelakaan beruntun. Ironisnya, sebagian pelaku masih berusia remaja dan bahkan ada yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Ketua Pengcab Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kota Tasikmalaya, H Tantan Shadir Soniawan, menilai balap liar tidak selalu berangkat dari niat kriminal, melainkan sering kali dipicu faktor psikologis dan lingkungan pergaulan.

“Sebagian dari mereka ingin diakui, ingin dianggap hebat, apalagi jika ditonton banyak orang. Padahal yang dipertaruhkan bukan hanya motor, tapi juga nyawa,” ujar Shadir saat ditemui di Tasikmalaya.

Menurut dia, balap liar kerap berkembang menjadi ajang adu gengsi antarkelompok. Situasi semakin diperparah oleh media sosial, ketika aksi berbahaya tersebut direkam dan diunggah demi mendapatkan perhatian dan popularitas sesaat.

Di sisi lain, risiko hukum dari balap liar tidak bisa dianggap ringan. Pelaku dapat dikenai sanksi tilang dan penyitaan kendaraan. Bahkan, jika balapan tersebut menyebabkan kecelakaan dengan korban luka atau meninggal dunia, proses pidana dapat diberlakukan.

Shadir menilai masih banyak pelaku maupun orang tua yang belum memahami dampak jangka panjang dari pelanggaran tersebut.

“Kalau sudah berurusan dengan hukum, catatannya bisa panjang. Ini yang sering tidak dipikirkan. Satu keputusan ceroboh bisa berdampak pada pendidikan dan masa depan mereka,” katanya.

IMI Kota Tasikmalaya berpandangan bahwa pendekatan represif semata tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan. Penertiban dan razia tetap diperlukan, tetapi harus dibarengi dengan edukasi dan pembinaan yang menyentuh langsung para remaja.

Sebagai langkah konkret, IMI berencana mengundang para pelaku balap liar untuk berdiskusi sekaligus memperkenalkan dunia balap resmi yang memiliki aturan, jenjang kompetisi, serta peluang prestasi.

“Kami ingin mereka tahu bahwa balap itu ada ilmunya, ada regulasinya, dan bisa menjadi prestasi jika dilakukan di tempat yang benar,” ujar Shadir.

IMI juga mendorong pemerintah daerah menyediakan ruang aman bagi hobi otomotif. Salah satu usulan yang kembali disuarakan adalah pemanfaatan lintasan latihan di Lanud Wiriadinata serta penyelenggaraan event otomotif resmi secara terjadwal.

Selain itu, wacana penggunaan jalan tertentu seperti Jalan Lingkar Baru JB sebagai lintasan drag sementara dinilai memungkinkan, dengan catatan pengawasan ketat dari aparat, dukungan tenaga medis, serta penerapan standar keselamatan.

“Kalau ada wadah resmi, kami yakin balap liar bisa ditekan secara signifikan,” kata dia.

Shadir pun mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi aktivitas anak, terutama pada malam hingga dini hari selama Ramadan.

“Jangan sampai penyesalan datang setelah terjadi kecelakaan. Orang tua harus mengawasi, mengarahkan, dan mendukung anak agar menyalurkan hobinya dengan cara yang benar,” ujarnya.

IMI menilai balap liar bukan sekadar persoalan pelanggaran lalu lintas, tetapi juga cerminan minimnya ruang ekspresi dan edukasi keselamatan bagi generasi muda. Tanpa kolaborasi antara aparat, pemerintah, komunitas, dan keluarga, fenomena yang kerap muncul setiap Ramadan ini dikhawatirkan akan terus berulang dan mengancam keselamatan publik di Kota Tasikmalaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *