News

Puasa Dimulai Rabu, Warga Muhammadiyah Tasikmalaya Gelar Tarawih Perdana

57
×

Puasa Dimulai Rabu, Warga Muhammadiyah Tasikmalaya Gelar Tarawih Perdana

Sebarkan artikel ini

KOTA TASIK (CM) – Umat Islam yang tergabung dalam Muhammadiyah mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah pada Rabu, 18 Februari 2026. Salat tarawih perdana digelar Selasa 17 Februari 2026 malam di berbagai daerah, termasuk di Kota Tasikmalaya.

Di kota tersebut, ribuan jemaah Muhammadiyah melaksanakan tarawih di puluhan masjid yang tersebar di tingkat cabang dan ranting. Suasana religius tampak terasa seiring antusiasme warga menyambut datangnya bulan suci.

Penetapan 1 Ramadan 1447 H merujuk pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah. Keputusan tersebut diperkuat dengan penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid Nomor 01/MLM/I.1/B/2025.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal dalam menentukan awal bulan Hijriah. Metode ini telah menjadi pedoman resmi organisasi tersebut dalam menetapkan kalender Islam.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Tasikmalaya, H. Ayi Mubarok, mengatakan pelaksanaan tarawih tidak dipusatkan di satu lokasi, melainkan tersebar di masing-masing cabang dan ranting.

“Tidak ada pemusatan untuk salat tarawih pertama. Pelaksanaannya di masing-masing cabang dan ranting, jadi tidak disentralisasi di satu titik,” kata Ayi saat dihubungi, Selasa (17/2/2026) malam.

Ia menyebutkan, di tingkat cabang terdapat sekitar 10 masjid Muhammadiyah di setiap kecamatan Kota Tasikmalaya. Sementara di tingkat ranting, sekitar 40 masjid menggelar tarawih perdana secara serentak.

“Semua cabang dan ranting sudah siap. Jamaah juga sudah mendapatkan informasi sejak jauh hari, sehingga pelaksanaan ibadah bisa berjalan tertib dan khusyuk,” ujarnya.

Terkait perbedaan awal puasa dengan organisasi Islam lainnya, Ayi mengajak masyarakat untuk menyikapinya secara dewasa dan saling menghormati.

“Perbedaan itu jadikan sebagai khazanah yang perlu kita rawat. Dari aspek kedisiplinan ilmu, ada yang menetapkan awal kalender Hijriah dengan hisab hakiki, ada juga yang dengan rukyat,” jelasnya.

Ia menegaskan perbedaan metode tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Menurutnya, sikap moderat dan saling menghargai ijtihad masing-masing organisasi perlu dikedepankan.

“Mari kita sambut Ramadan ini dengan kejernihan hati. Ketika ada perbedaan, kita kembali pada ijtihad dan posisi ormas masing-masing. Insyaallah semuanya akan harmonis,” pungkasnya.

Di Tasikmalaya, Ramadan 1447 H diharapkan menjadi momentum memperkuat spiritualitas sekaligus menjaga toleransi dan persaudaraan di tengah keberagaman umat Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *