News

Penjualan Hewan Kurban Turun 50 persen

305
×

Penjualan Hewan Kurban Turun 50 persen

Sebarkan artikel ini

KAB TASIKMALAYA (CM) – Jelang Idul Adha 1441 Hijriyah, penjualan hewan kurban ramai dipenuhi pedagang dari berbagai daerah tepatnya di Pasar Hewan, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Penjualan yang dilakukannya di lokasi tersebut telah dibuka kembali setelah pemerintah daerah memberlakukan adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Pantauan di lapangan, penjual hewan kurban berasal dari Cibalong, Cikalong dan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Pangandaran, Banjarnegara, Madura, Jember, Jawa Timur dan Jawa Tengah memenuhi lokasi. Pedagang yang memenuhi lokasi tersebut masih belum menerapkan protokol kesehatan terutamanya dalam pemakaian masker.

Plt Kepala UPTD Pasar Hewan Manonjaya, Eka Rostika Ningsih mengatakan, jelang idul adha sekarang banyak pedagang yang berasal dari luar daerah sengaja datang ke Tasikmalaya dengan menggunakan truk terutamanya untuk menjual hewan. Namun, kedatangan ratusan pedagang yang memakai kendaraan langsung disemprot disinpektan sebelum masuk pasar hingga diberikan masker.

“Selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pasar hewan Manonjaya sempat ditutup beberapa bulan, dan jelang Idul adha ini kembali dibuka hingga banyak pedagang dari luar daerah mendatanginya termasuk penjual berasal dari Priangan Timur. Sedangkan, untuk hewan kurban yang ada sekarang berjumlah 300 ekor dan paling banyak para bandar yang datang itu rata-rata membawa 10-12 ekor,” katanya, Kamis (09/07/2020).

Eka mengatakan, penjualan hewan kurban di tahun ini telah mengalami penurunan secara drastis mencapai 50 persen yang disebabkan dari pandemi Covid-19, dan jika dibandingkan tahun lalu memang ada peningkatan hingga mencapai 65 persen. Sedangkan, sekarang ini harga jual tiap tahun mengalami kenaikan 20 persen atau rata-rata sapi yang dijual seharga Rp 18, Rp 19 juta sampai Rp 23 juta per ekor.

“Kalau persaingan antar para pedagang lokal dan luar daerah memang selama itu saya tidak bisa membendung, tapi semua pedagang juga tetap berupaya bersaing dengan harga-harga tapi persaingan sapi lokal banyak dikeluhkan karena kondisinya kalah dengan tubuh berasal dari luar daerah. Namun, di dalam penerapan protokol kesehatan para pedagang lokal saat ini sudah mengetahui agar tetap memakai masker,” ujarnya

Sementara itu, seorang pedagang, Raden Rizki Fauzi (38), warga Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya mengatakan, penjualan hewan kurban untuk tahun ini ada penurunan karena harganya tinggi yang menyebabkannya daya beli masyarakat juga kurang. Namun, selama ini stok penjualan hewan kurban di kandang antara 50 sampai 60 ekor tetapi di tahun 2020 hanya menyiapkan 40 ekor.

“Untuk stok hewan kurban yang saya siapkan mulai dari si metal, limosin, krosing, kampung dan sapi pasundan. Penjualan yang dilakukan sekarang ini memang harganya sebesar Rp 18 juta, Rp 19 juta sampai Rp 75 juta, tetapi harga itu ada kenaikan dibanding tahun lalu karena dijualnya mulai Rp 17 juta sampai Rp 20 juta dan kenaikannya antara Rp 1 juta sampai Rp 2 juta,” paparnya. (Amas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *